Kompas.com - 16/12/2019, 19:33 WIB
Ilustrasi jantung yodiyimIlustrasi jantung

Masa kehamilan

Selain faktor kadar estrogen, terdapat faktor risiko non tradisional atau tidak umum yang hanya dapat terjadi pada wanita, yaitu kehamilan.

Saat seorang wanita hamil, tubuhnya secara alami akan menyediakan darah dua kali lipat. Namun, jika sang ibu (wanita hamil) memiliki kelainan jantung bawaan atau pun menderita faktor risiko penyakit jantung seperti hipertensi atau diabetes, maka kemungkinan ibu mengalami gangguan jantung saat hamil akan meningkat.

“Hal ini karena kehamilan menyebabkan stres secara fisik pada tubuh ibu, akibatnya jantung akan dipaksa untuk bekerja lebih keras,” tuturnya.

Penyakit penyerta lainnya

Kedua penyakit penyerta yaitu hipertensi dan diabetes memang dikatakan menjadi hulu dari berbagai sumber penyakit. Begitu juga dengan penyakit jantung pada wanita.

Dijelaskan Sally, meskipun wanita muda (usia subur) cenderung jarang mengalami penyakit jantung. Namun, hal itu bisa terbantahkan jika wanita tersebut menderita hipertensi atau diabetes, serta autoimun.

"Penyakit jantung pada wanita itu biasanya lansia, tapi jangan salah, yang muda juga bisa kena penyakit jantung kalau dia menderita hipertensi dan/atau diabetes," jelasnya.

Pencegahan

Melakukan pencegahan terhadap terjadinya penyakit jantung pada wanita dapat dimulai dari mengubah pola hidup dengan berolahraga. Targetnya, 150 menit olahraga sedang atau 75 menit olahraga berat, seperti olahraga aerobik atau jalan cepat, jogging dan renang setidaknya dilakukan lima kali seminggu selama 30 menit.

“Pencegahan lainnya dengan melakukan diet sehat, dengan body Mass Index (BMI) atau Indeks massa tubuh kurang dari angka 25,” ujarnya.

Selain itu, hindarilah merokok. Wanita yang merokok memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner enam kali lebih tinggi dibandingkan pria.

Hal ini karena merokok dapat menimbulkan plak pada pembuluh darah, mengurangi kadar HDL atau Kolestrol baik, meningkatkan tekanan darah dan meningkatnya gangguan irama jantung.

“Oleh karena itu, sangat penting mengetahui kondisi tubuh sendiri. Salah satunya dengan menjaga gaya hidup dan pola makan serta melakukan screening jantung teratur,” ujarnya.

Screening tersebut bisa Anda lakukan paling tidak setahun sekali atau enam bulan sekali. Meskipun, diakui Sally, yang tepat adalah melakukannya secara rutin untuk dapat mengetahui berapa angka Anda terhadap semua faktor risiko penyakit yang ada.

“Kami sadar bahwa ibu merupakan ujung tombak keluarga dan memiliki posisi yang tidak tergantikan. Karenanya, lewat cara ini, kami berharap dapat memberikan edukasi serta meningkatkan kesadaran para kaum wanita mengenai kesehatannya,” ujar Tjutya Arumsari, Marketing Lead Philips Health System Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.