Kompas.com - 13/12/2019, 18:03 WIB
Ilustrasi menyikat gigi thinkstock/miya227Ilustrasi menyikat gigi

Namun, penelitian dari Korea yang melibatkan kelompok besar selama periode waktu yang lama ini masih diragukan karena beberapa hal.

Sebabnya, karena penemuan ini tidak tergantung pada usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, olahraga teratur, konsumsi alkohol, indeks massa tubuh, dan masalah kesehatan serupa seperti hipertensi.

Selain itu, saat penelitian, subjek diminta untuk melaporkan pola menyikat gigi mereka sendiri. Namun, hanya individu dalam populasi Asia yang dipertimbangkan.

Penelitian ini juga menggunakan elektrokardiografi atau ekokardiografi, namun hasilnya tidak aktual.

Baca juga: Berat Badan Tak Stabil, Risiko Kardiovaskular Naik

Penelitian dalam jangka waktu yang lama ini juga dianalisis secara retrospektif, sehingga tidak menemukan spesifikasi hubungan sebab akibat.

Walaupun hasilnya belum sepenuhnya kuat, penemuan tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari tahun lalu , yang menemukan bahwa orang yang menyikat gigi kurang dari dua kali sehari memiliki peningkatan risiko 3 kali lipat mengalami atau meninggal akibat serangan jantung.

Ahli jantung, Ann Bolger memperingatkan bahwa hasil penemuan seperti itu tidak membuktikan adanya penyebab.

Ia menjelaskan, kemungkinan orang yang memerhatikan kesehatan gigi juga menjaga kesehatan di bagian lain dari tubuh mereka, seperti mengatur gaya hidup yang meningkatkan kebugaran kardiovaskular mereka.

Sebuah tajuk rencana yang ditulis oleh dua pakar independen, Pascal Meyre dan David Conen dalam Europian Journal of Preventive Cardiology (1/12/2019), juga memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan lebih lanjut.

"Penyebab hubungan ini tidak jelas, dan tentu saja terlalu dini untuk merekomendasikan menyikat gigi untuk pencegahan atrial fibrilasi dan gagal jantung" catat mereka seperti dilansir dari Science Alert, Jumat (6/12/2019).

Baca juga: Cabut Gigi Bungsu, Berapa Lama Sampai Sakitnya Hilang dan Sembuh?

"Sementara peran peradangan dalam terjadinya penyakit kardiovaskular menjadi lebih dan lebih jelas, studi intervensi diperlukan untuk menentukan strategi kepentingan kesehatan masyarakat."

Sampai sekarang, tidak ada bukti bahwa mengobati penyakit gusi akan mencegah penyakit kardiovaskular.

Tetapi dengan penemuan yang menarik ini, para ahli mengatakan bahwa setiap orang tetap perlu menjaga kesehatan gigi.
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.