BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan MSD Indonesia

Mengenal Sejarah Imuno Onkologi, Salah Satu Pengobatan Kanker Paru...

Kompas.com - 13/12/2019, 10:13 WIB
Ilustrasi kanker paru SHUTTERSTOCKIlustrasi kanker paru
|

KOMPAS.comKanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang banyak diderita masyarakat Indonesia.

Data terbaru dari International Agency for Research on Cancer (IARC), Global Cancer Observatory 2018 menyatakan penderita kanker paru di Indonesia sebanyak 30.023 jiwa dengan angka kematian mencapai 26.095 jiwa.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia menempati urutan pertama negara dengan penderita terbanyak kanker paru di Asia Tenggara.

Salah satu faktor banyaknya penderita yang tutup usia karena penyakit ini adalah rendahnya harapan hidup pasien.

Baca juga: Studi: Tinggal di Dekat Jalan Raya Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru

 

Pasalnya, kanker paru kerap terdeteksi pada stadium lanjut, karena tidak adanya gejala khas yang timbul pada awal berkembanganya penyakit. Karena hal ini, para pasien baru mengunjungi dokter saat sudah ada gejala stadium lanjut seperti batuk darah.

Namun, seiring berjalannya waktu saat ini terdapat salah satu pengobatan kanker paru yang disinyalir mampu memperbesar harapan hidup pasiennya, yakni imuno onkologi.

Kebanyakan orang awam mungkin akan bertanya-tanya bila mendengar istilah imuno onkologi. Imuno onkologi atau biasa disingkat IO ini sering kali juga disebut imunoterapi.

Istilah imuno onkologi memang baru akhir-akhir ini disebut sebagai pengobatan yang lebih inovatif daripada kemoterapi.

Namun, sebelum berbicara tentang bagaimana cara pengobatan ini dilakukan, ada baiknya untuk menyelisik sejarah awal terciptanya pengobatan imuno onkologi.

Ilustrasti pengobatan imuno onkologi.SHUTTERSTOCK Ilustrasti pengobatan imuno onkologi.

Memacu sistem kekebalan tubuh

Semua berawal pada akhir abad ke-19 saat seorang peneliti asal Amerika Serikat, William B. Coley menemukan sebuah metode untuk mengalahkan sel kanker.

Pada 1891, pria yang juga dikenal sebagai Bapak Imuno Onkologi ini mengamati bahwa infeksi dalam tubuh pasien kanker terkadang berhubungan dengan kesembuhan penyakit.

Dengan demikian, ia berpendapat bahwa membuat tubuh pasien mengalami infeksi secara sengaja mungkin bisa membantunya mengobati kanker.

Baca juga: Mengenal Imunoterapi, Pengobatan Terkini Kanker Paru

Untuk menguji pemikiran itu, Coley menyuntikkan bakteri Streptococcus pyogenes dan Serratia marcescens ke dalam tubuh pasien. Ia memanfaatkan campuran itu untuk menyebabkan infeksi pada pasien kanker, melansir Targetedonc.com, Kamis (21/8/2014).

Bakteri ini kemudian memacu sistem kekebalan pasien untuk menyerang infeksi dan segala jenis benda asing apapun di dalam tubuh, termasuk tumor.

Melansir Kompas.com, Jumat (16/6/2017), saat ini imuno onkologi merupakan pengobatan kanker yang bertujuan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor.

Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death-Ligand 1 (PD-L1) melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun segera mendeteksi dan membunuh sel-sel kanker.

Ilustrasi pengobatan kanker paru melalui metode imuno onkologi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi pengobatan kanker paru melalui metode imuno onkologi.

Efek samping rendah

Beberapa tahun belakangan, pengobatan kanker dengan metode imuno onkologi kembali mengemuka di Indonesia dan disinyalir mampu membantu meningkatkan kualitas hidup pasien kanker paru stadium akhir dengan memulihkan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Sudah ada banyak riset penelitian imuno onkologi yang dilakukan termasuk riset yang diterbitkan oleh University of Wollongong, Australia.

Menurut riset yang diterbitkan University of Wollongong, Australia pada 2019 tersebut, rata-rata tingkat harapan hidup (Median Overall Survival Rate) terapi imuno onkologi dapat mencapai hingga 30 bulan.

Baca juga: Mampukah Imunoterapi Mengalahkan Kanker?

 

Angka tersebut lebih tinggi sekitar 88 persen dibandingkan dengan rata-rata tingkat harapan hidup dari kemoterapi yang hanya mencapai 14,2 bulan. Sebuah pencapaian yang sangat baik dalam dalam hal penanganan kanker.

Selain itu, pasien yang menjalani terapi imuno onkologi tidak akan mengalami efek samping seperti kerontokan rambut.

Oleh karena itu, imuno onkologi juga disebut sebagai terapi yang menjaga dan meningkatkan kualitas hidup pasiennya karena mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa, meskipun tengah berada di masa pengobatan.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kanker paru dan pengobatan imuno onkologi, silakan berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi atau kunjungi situs www.lawankankerdaridalam.com.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena
Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kita
Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Fenomena
Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Oh Begitu
Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Fenomena
Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Oh Begitu
Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Fenomena
Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Prof Cilik
Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Kita
Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Oh Begitu
3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

Oh Begitu
Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Kita
Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Fenomena
Ini Saran Ahli Menyikapi New Normal agar Tidak Stres dan Terinfeksi Covid-19

Ini Saran Ahli Menyikapi New Normal agar Tidak Stres dan Terinfeksi Covid-19

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya