Kompas.com - 09/12/2019, 10:17 WIB
Hujan meteor Orionid pada 21 Oktober 2012 seperti diabadikan astrofotografer Daniel McVey. Daniel McVeyHujan meteor Orionid pada 21 Oktober 2012 seperti diabadikan astrofotografer Daniel McVey.

KOMPAS.com - Pada Desember ini, ada beberapa fenomena langit yang sayang untuk dilewatkan.

Salah satu peristiwa yang tak boleh dilewatkan adalah Gerhana Matahari Cincin yang akhirnya dapat saksikan dari Indonesia.

Berikut beberapa fenomena langit terbaik yang terjadi bulan ini di Indonesia menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Baca juga: Misi NASA Sentuh Matahari, Ungkap Perilaku Rumit yang Mengejutkan

1. Venus berdampingan dengan Saturnur, 11 Desember 2019

Venus akan berdampingan dengan Saturnus setelah Maghrib, Rabu (11 Desember 2019). Venus akan berdampingan dengan Saturnus setelah Maghrib, Rabu (11 Desember 2019).
Pada Rabu (11/12/2019), gerakan orbit Venus (kurva merah) akan berdampingan dengan Saturnus.

Dilansir Space.com, Venus berada di langit bagian barat daya dan bersinar sangat terang. Sementara Saturnus berada di sebelah kiri bawah atau selatan langit, dan berpendar cukup terang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan pemisahan kurang dari dua derajat pada pendekatan terdekat, kedua planet itu akan berada dalam satu lensa teleskop.

"Venus berdampingan dengan Saturnus, setelah maghrib (WIB) pada 11 Desember," kata Thomas kepada Kompas.com.

2. Hujan meteor Giminid, 13-14 Desember 2019

Ilustrasi hujan meteor Geminid. Ilustrasi hujan meteor Geminid.

Hujan meteor Geminids adalah salah satu fenomena langit paling spektakuler tahun ini.

Hujan meteor Geminid berlangsung dari 4 sampai 16 Desember setiap tahunnya. Pada 2019 ini, puncak hujan meteor antara 13-14 Desember dini hari.

Sedikitnya ada 120 meteor per jam yang akan turun menghiasi lagit. Dengan catatan, kondisi langit cerah.

Dilansir Space.com, meteor Geminid memiliki warna cerah pekat, dan bergerak dengan kecepatan 35 km.detik.

Untuk mengamati hujan meteor ini, carilah rasi Gemini yang terbit antara pukul 20.00 WIB.

Bulan Cembung besar yang terbit beriringan dengan arah datang Geminid akan menjadi sumber polusi cahaya alami di langit. Ini membuat hujan meteor Geminid tak mudah diamati.

"Hujan meteor kuat Geminid pada 13-14 Desember, kemungkinan besar (sulit dilihat karena) terganggu bulan purnama," ujar Thomas.

3. Matahari berada pada titik paling selatan, 22 Desember 2019

Menurut Thomas, pada Minggu (22/12/2019), matahari akan berada pada titik paling selatan Bumi.

4. Gerhana matahari cincin, 26 Desember 2019

Gerhana matahari cincin 26 Desember 2019 Gerhana matahari cincin 26 Desember 2019

Jika pada 26 Desember 2019 nanti kita berada di Sumatera atau Kalimantan, kita sangat mungkin menyaksikan fenomena langka Gerhana Matahari Cincin (GMC).

Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada segaris dengan Bumi dan Matahari, serta Bulan berada pada titik apogee (terjauh).
Piringan bulan akan tampak lebih kecil dibanding piringan matahari, hingga tidak menutupi seluruhnya.

Kerucut umbra tidak sampai ke permukaan Bumi dan akan terbentuk kerucut tambahan yang disebut antumbra.

"Pengamat yang berada dalam wilayah antumbra akan melihat Matahari tampak seperti 'cincin' di langit. Inilah yang disebut gerhana matahari cincin (GMC)," tulis siaran pers LAPAN.

Fenomena ini akan melintasi 7 provinsi di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Berikut adalah rincian kota mana saja yang akan menyaksikan GMC.

  • Sumatera Utara: Sibolga dan Padang Sidempuan.
  • Riau: Siak, Duri, Pulau Pedang, Pulau Bengkalis, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Rangsang.
  • Kepulauan Riau: Batam dan Tanjung Pinang.
  • Kalimantan Barat: Singkawang.
  • Kalimantan Utara: Makulit dan Tanjung Selor. Kalimantan Timur: Berau.

"Kota Siak dan Singkawang adalah dua di antara kota-kota yang dilintasi (GMC)," ungkap Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Selasa (1/10/2019).

Dalam laporan LAPAN, disebutkan titik greatest eclipse (GE) atau ketika sumbu bayangan Bulan berada paling dekat dengan pusat Bumi berada di tengah selat di dekat Pulau Pedang, tepatnya berada pada koordinat (1,0089° LU; 102,2465° BT), dengan durasi fase cincin selama 3 menit 39 detik.

Baca juga: Akhir Tahun, Riau dan Singkawang akan Saksikan Gerhana Matahari Cincin

Secara umum, GMC terjadi tiap 1-2 tahun sekali. GMC terakhir terjadi pada tanggal 26 Februari 2017. GMC dalam 6 tahun ke depan akan terjadi pada tanggal 26 Desember 2019, 21 Juni 2020, 10 Juni 2021, 14 Oktober 2023, dan 2 Oktober 2024.

"Dari semua tanggal ini, hanya gerhana pada tahun 2019 yang dapat diamati dari wilayah Indonesia," tulis LAPAN.

 



Sumber SPACE.COM
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.