The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Temuan Telur Tercemar Dioksin, Kita Tak Perlu Lebay Menanggapinya

Kompas.com - 02/12/2019, 11:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

IPEN Gambaran skema bagaimana sampah plastik meracuni rantai makanan

Sampah plastik merupakan sumber utama senyawa berbahaya yang disebut dioksin. Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan munculnya dioksin sebagai hasil samping reaksi.

Dioksin adalah kelompok senyawa kimia berbahaya yang terdiri dari beberapa golongan, seperti senyawa polychlorinated dibenzodioxins (PCDDs), polychlorinated dibenzofurans (PCDFs), dan polychlorinated biphenyls (PCBs).

Selain itu, PCDDs dan PCDFs mengkontaminasi lingkungan akibat dari produksi dan penggunaan bahan kimia tertentu pada industri bubur kertas (pulp) dan kertas.

Kemungkinan terjadinya paparan dioksin terhadap manusia dapat melalui beberapa cara, yaitu melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan secara tidak langsung dari tanah yang terkontaminasi, penyerapan oleh permukaan kulit, dan konsumsi pangan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan laporan ihwal dampak buruk bagi manusia (jangka pendek dan jangka panjang) akibat paparan oleh dioksin dengan konsentrasi yang tinggi. Dalam jangka pendek paparan dioksin dapat menyebabkan lesi kulit (chloracne) atau jaringan kulit tidak normal.

Sedangkan pada jangka panjangnya dapat mengakibatkan berbagai keracunan seperti keracunan pada imunitas, perkembangan, termasuk perkembangan saraf. Selain itu, pengaruh lainnya adalah gangguan fungsi hormon tiroid, steroid, dan reproduksi, hingga ancaman kanker.

Bila di Vietnam paparan racun dioksin akibat perang, di Indonesia karena buruknya pengelolaan sampah plastik dan kebijakannya.

Riset oleh IPEN, jaringan global untuk kepentingan publik dan organisasi non-pemerintah (lebih dari 500 LSM dari 116 negara) yang bekerja untuk menciptakan masa depan yang bebas racun, harus dimaknai sebagai peringatan dini yang penting.

Arif Nur Muhammad Ansori

Ph.D. Candidate in Veterinary Science, Universitas Airlangga

Artikel ini ditayangkan di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel berjudul "Mengapa kita tidak perlu terlalu berlebihan menyikapi hasil riset telur ayam tercemar dioksin di Sidoarjo?". Isi di luar tanggung jawab redaksi Kompas.com.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.