Kompas.com - 29/11/2019, 07:32 WIB

KOMPAS.com - Pertama kali dalam sejarah, ahli biologi kelautan berhasil mencatat detak jantung paus biru di alam liar.

Hasil pencatatan itu juga berhasil menunjukkan kalau ternyata jantung membantu cetacea tersebut menahan napas dalam waktu yang lama.

Studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, Senin (25/11/2019), mengungkap pula bagaimana paus biru dapat mengerahkan energi untuk paru-paru ketika kembali ke permukaan dengan cepat.

Paus biru merupakan mahluk terbesar yang hidup di planet ini. Mamalia akuatik tersebut memiliki panjang hingga 30 meter dengan berat mencapai 173 metrik ton atau 172.365 kilogram. Atau setara dengan 28 gajah Afrika yang merupakan hewan darat terbesar.

Baca juga: Langka, Begini Jadinya kalau Paus Beluga Kawin dengan Narwhal

Mengingat ukuran pasu biru yang sangat besar, para ahli biologi kelautan di seluruh dunia selalu kesulitan mencatat detak jantung mereka.

Jeremy Goldbogen, peneliti dari Stanford University bersama tim pun mengembangkan elektrokardiogram (EKG) yang dapat ditempel pada paus biru seperti mangkuk isap (suction cup).

"Tantangannya kami harus melakukannya dengan tepat. Mulai dari menemukan paus biru, menempelkan alat di tempat yang sesuai, dan memastikannya berfungsi serta merekam data," kata Goldbogen, dilansir Gizmodo, Seni (25/11/2019).

Para peneliti pun berhasil memasang perangkat mereka di sebelah sirip paus biru jantan berusia 15 tahun di Monterey Bay, California.

Perangkat tersebut mampu melacak ritme jantung paus saat menyelam hingga kedalaman 184 meter hingga saat hewan tersebut berada di dalam air selama hampir 17 menit.

Saat melakukan penyelaman yang dalam, detak jantung paus melambat hingga sekitar 4-8 detak per menit (bpm).

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Gizmodo
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.