Kompas.com - 22/11/2019, 13:03 WIB
Ilustrasi antibiotik ShutterstockIlustrasi antibiotik

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak rasional juga terjadi di masyarakat yang menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik di masyarakat, dan menyebar di keluarga dan lingkungan.

Upaya penanggulangan resistensi antibiotik

Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) didukung oleh berbagai pihak yaitu Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pertanian RI, World Health Organization Indonesia (WHO), Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba Nasional (KPRA) dan pihak produsen obat dalam hal ini Pfizer Indonesia menyerukan dan menegaskan kembali pentingnya memerangi resistensi antibiotik.

Penting untuk mencegah kekebalan mikroba/kuman/bakteri terhadap antibiotik melalui penanganan multisektoral yang terkoordinasi. Selain itu, akademisi dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam memerangi resistensi antibiotik.

“Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) mewajibkan setiap rumah sakit di Indonesia untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program penggunaan antibiotik yang bijak melalui penerapan Program Pengendalian Resistensi Antibiotik,” tutur Dr dr Budiman Bela, SpMK(K) selaku Direktur Umum RS Universitas Indonesia dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (22/11/2019).

Baca juga: Kebal Antibiotik, Bakteri Super Bakal Bunuh Jutaan Manusia pada 2050

Kegiatan PPRA RSUI, lanjut dr Budiman, merupakan salah satu upaya untuk mengikuti pedoman yang telah ditetapkan secara internasional maupun nasional dalam rangka menjamin keselamatan pasien, dan memaksimakan pelayanan kepada pasien dengan mencegah peningkatan angka resistensi bakteri.

Dr dr Hari Paraton SpOG(K) selaku Ketua KPRA menjelaskan bahwa aturan pengendalian antibiotic sudah dikeluarkan melalui Permenkes No 8 Tahun 2015.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Peraturan tersebut mengatur setiap rumah sakit, agar diwajibkan memiliki tim PPRA dan menerapkan program-program pengendalian antibiotik,” paparnya.

Baca juga: Pahami, Tak Semua Penyakit Butuh Antibiotik

Selain upaya yang dilakukan oleh komunitas kesehatan, ada berbagai hal yang dapat dilakukan masyarakat setiap hari untuk membantu memerangi resistensi antibiotik.

Antara lain tidak membeli sendiri antibiotik tanpa resep dokter. Jika diberikan resep antibiotik, pastikan untuk menggunakannya sesuai dosis yang diinstruksikan dokter.

Selesaikan program pengobatan, jangan lewatkan dosis apapun, dan jangan minum obat yang diresepkan untuk orang lain. Lakukan vaksinasi secara berkala untuk mengurangi kemungkinan terkena infeksi yang perlu diobati dengan antibiotik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.