Kompas.com - 19/11/2019, 10:12 WIB
Ilustrasi tes testosteron Ilustrasi tes testosteron

"Jika palik tidak pria mengalami gejala nomor satu (penurunan dorongan seksual) atau nomor tujuh (disfungsi ereksi) atau tiga gejala lain, pria tersebut mungkin kekurangan hormon testosteron," kata Nugroho dalam acara bertajuk Men’s International Day oleh Bayer, di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Faktor risiko sejumlah sindrom metabolik seperti Diabetes Melitus Tipe II, Hipertensi, Kadar Lemak Darah dan Obesitas juga dapat menurunkan kadar testosteron seseorang.

Kekurangan hormon testosteron, pada akhirnya dapat memicu sejumlah penyakit, baik psikis maupun fisik.

"Rendahnya hormon testosteron dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, gangguan metabolik, gangguan kardiovaskular, gangguan seksual, permasalahan fisik, serta risiko kematian yang lebih tinggi," ujarnya.

Terapi sulih hormon

"Pria yang mengalami gejala kekurangan hormon testosteron harus segera berkonsultasi dan memeriksa kadar testosteronnya untuk mendapatkan terapi sulih hormon sehingga kualitas hidup juga menjadi lebih baik," tutur Nugroho.

Tujuan terapi sulih hormon testosteron adalah untuk mengembalikan kadar testosteron ke tingkat normal.

Penelitian membuktikan, terapi sulih hormon testosteron dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik.

"Banyak pasien yang saya berikan injeksi testosteron jangka panjang mengalami penurunan lingkar pinggang, penurunan berat badan, perbaikan gula darah, serta perbaikan lemak darah," kata dia.

Baca juga: 5 Tanda Pria Kekurangan Hormon Testosteron

Harus dengan pengawasan dokter

Namun, Nugroho mengingatkan bahwa pemberian hormon testosteron tambahan juga harus dalam pengawasan dan tanggungjawab dokter.

Sebab, dokter yang paham akan memilih obat resmi yang telah disetujui Badan POM, memiliki efektivitas tinggi, efek samping yang ringan, pemberiannya nyaman untuk pasien dan tidak mempunyai kontra-indikasi.

"Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang biasanya dipilih karena berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2015 oleh Carruthers M, Cathcart P, Feneley MR, (injeksi tersebut) menunjukkan tingkat keberhasilan terapi sampai 82 persen, sedangkan keberhasilan dengan penggunaan obat minum hanya mencapai 41 persen," kata Nugroho.

"Pemberian Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang juga lebih aman terhadap hati karena tidak masuk ke dalam aliran darah," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.