LIPI Kenalkan ddPCR untuk Bantu Kebutuhan Riset Bioteknologi

Kompas.com - 30/10/2019, 20:30 WIB
Saat ini teknologi PCR telah dikembangkan dalam generasi ketiga yang disebut Droplet Digital PCR (ddPCR). DOK.LIPISaat ini teknologi PCR telah dikembangkan dalam generasi ketiga yang disebut Droplet Digital PCR (ddPCR).

KOMPAS.com - Perkembangan teknologi dalam berbagai sektor diyakini dapat menjawab kebutuhan atas beragam tantangan. Seperti halnya penemuan terbaru bernama Polymerase Chain Reactiom (PCR), yang dianggap peneliti dapat membawa era baru dalam menjawab kebutuhan riset bioteknologi.

Saat ini teknologi PCR telah dikembangkan dalam generasi ketiga yang disebut Droplet Digital PCR (ddPCR).

Melalui Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), teknologi digital PCR dapat dimanfaatkan untuk deteksi halal, penyakit, dan produk rekayasa genetika.

Meski begitu, penguasaan terhadap teknologi ini di Indonesia dirasa masih kurang.

"Teknologi ddPCR ini mampu membantu deteksi sampel DNA dengan konsentrasi yang sangat rendah tanpa mengurangi akurasi dan presisinya. Selain itu juga mampu mendeteksi keberadaan inhibitor pada sampel dan dapat diaplikasikan pada sampel yang kompleks," ujar Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Puspita Lisdiyanti.

Baca juga: Bidik 2 Kategori Penghargaan IEYI, LIPI Ungkap Kekuatan Anak Indonesia

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Itu Penelitian Indonesia (LIPI), Enny Sudamonowati juga manmbahkan bahwa ddPCR ini baik untuk Indonesia terutama dalam mendeteksi produk-produk halal.

“Teknologi ddPCR memiliki tingkat sensitivitas tertinggi dibandingkan dua generasi sebelumnya,” kata Enny.

Baca juga: LIPI Kembangkan Produk Pangan Fungsional, Cegah Stunting dan Obesitas

Meskipun ddPCR juga bisa dimanfaatkan dalam hal penyakit dan produk rekayasa genetika, Enny menjelaskan saat ini dunia sangat fokus terhadap produk halal, baik makanan dan kosmetik.

“Malaysia dan Thailand telah menjawab kebutuhan itu. Seharusnya Indonesia bisa lebih responsif menangkap peluang tersebut. Di sinilah peran riset bioteknologi perlu diekspos untuk memperkenalkan teknologi terkini yang dapat dimanfaatkan bagi industri dan masyarakat," jelasnya.

Keberadaan teknologi ddPCR diyakini sangat efektif dan sesuai dengan kebutuhan digitalisasi dalam proses penelitian.DOK.LIPI Keberadaan teknologi ddPCR diyakini sangat efektif dan sesuai dengan kebutuhan digitalisasi dalam proses penelitian.

Keberadaan teknologi ddPCR diyakini sangat efektif dan sesuai dengan kebutuhan digitalisasi dalam proses penelitian.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Oh Begitu
Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Fenomena
Bumi Berada di Titik Aphelion, Apa Dampaknya untuk Indonesia?

Bumi Berada di Titik Aphelion, Apa Dampaknya untuk Indonesia?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X