5 Efek Negatif Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Kompas.com - 14/10/2019, 18:06 WIB
Ilustrasi media sosial shutterstockIlustrasi media sosial

KOMPAS.com – Eksistensi media sosial memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sosial media juga membuat warga dunia terkoneksi, lebih dari apapun dalam sejarah.

Warga Inggris menghabiskan 28 waktu dalam sehari hanya untuk mengakses media sosial. Orang Indonesia juga rata-rata memiliki frekuensi cukup sering dalam mengakses media sosial.

Namun terlepas dari manfaatnya, media sosial juga punya efek negatif bagi kesehatan mental. Terlalu sering mengakses media sosial akan membuat Anda tidak bahagia, bahkan terisolir dari dunia luar.

Baca juga: Kenapa Kita Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain di Media Sosial?

Bombardir foto selfie dengan efek beauty filter sedikit banyak mempengaruhi rasa percaya diri seseorang. Sementara itu, mengecek linimasa di Twitter sebelum tidur juga mempengaruhi kualitas istirahat Anda.

Mengutip The Independent, Senin (14/10/2019), berikut lima efek negatif dari media sosial terhadap kesehatan mental Anda. Apakah Anda sadar?

Rasa percaya diri

Kita kerap berbagi rasa kecemasan kepada orang lain, termasuk di media sosial. Beberapa kecemasan lain juga kita putuskan untuk disimpan saja, tanpa memberitahu warganet atau followers.

Meski begitu, membandingkan diri sendiri dengan orang lain di media sosial dengan stalking bisa meningkatkan rasa tidak percaya diri. Hal ini terbukti oleh penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari University of Copenhagen.

Dalam penelitian tersebut, banyak orang yang menderita “Facebook envy”. Hal ini terjadi ketika melihat post dari orang lain di Facebook dan membandingkannya dengan kondisi diri sendiri.

Ilustrasi InstagramIst Ilustrasi Instagram

Hubungan antar-manusia

Kita ini manusia. Penting untuk berkomunikasi secara verbal dan tatap mata.

Namun hal itu akan menjadi sulit apabila mata kita sangat lengket pada layar. Kita menjadi lebih dekat dengan orang di dalam layar dibanding orang di sekitar kita.

Stina Sanders, mantan model yang memiliki 107 ribu pengikut di Instagram, mengatakan bahwa media sosial terkadang membuatnya hilang arah.

“Dari pengalaman, saya merasa terbelakang dan terisolir ketika melihat foto teman saya yang sedang pergi pesta dan saya tidak ikut. Hal itu membuat saya merasa kesepian,” tuturnya.

Memori

Media sosial menjadi ajang tepat untuk mengingat masa lalu lewat memory atau flashback. Namun, media sosial juga bisa mengurangi ingatan sebenarnya. Hal ini misal terjadi pada hari ulang tahun teman atau kerabat. Hal itu dulu kita ingat, namun kini menjadi ketergantungan pada media sosial yang mengingatkan.

Baca juga: Awkarin dan Instagram, Benarkah Efek Media Sosial Seperti Narkoba?

Selain itu, banyak dari kita yang mencoba mengambil momen atau foto terbaik untuk diunggah di media sosial. Namun, pengalaman yang sebenarnya malah kita lewatkan: melihat fenomena atau kejadian itu langsung dengan mata kepala sendiri.

Tidur

Cukup tidur adalah hal yang sangat krusial. Dengan mata yang terus-terusan terpaku pada ponsel dan media sosial, kualitas tidur akan berkurang.

“Keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di media sosial membuat otak kita terjaga, dan sulit untuk tidur,” tutur Dr Tim Bono, penulis buku berjudul “When Likes Aren’t Enough”.

Baca juga: Gangguan Tidur Remaja, Solusinya Ada pada Screen Time

Lagipula, tutur Dr Tim, ponsel yang terletak hanya beberapa sentimeter dari wajah kita bisa menekan level melatonin, hormon yang membuat kita merasa letih.

Untuk itu, Dr Tim menyarankan, cobalah simpan ponsel dan jauhkan dari jangkauan Anda setidaknya 40 menit sebelum tidur.

Ilustrasi media sosialTHINKSTOCKS/NICO ELNINO Ilustrasi media sosial

Ketergantungan dan kesehatan mental

Cobalah tidak mengecek media sosial Anda selama satu hari penuh. Di jam-jam tertentu Anda mungkin akan merasa ada sesuatu yang hilang, atau ada sesuatu yang kurang. Kemudian Anda mungkin merasa tidak update dengan kondisi terkini, merasa ditinggalkan, dan lain sebagainya.

Media sosial terbukti bisa menyebabkan isu kesehatan mental seperti depresi, terutama jika Anda menggunakannya secara berlebihan.

Pada Maret 2018, dilaporkan bahwa lebih dari sepertiga Generasi Z (berdasarkan survey dari 1.000 responden) berhenti dari penggunaan media sosial. Ini karena sebanyak 41 persen responden merasakan kesedihan dan depresi.

Baca juga: Studi: Perilaku Pecandu Media Sosial Mirip Kecanduan Narkoba

Ben Jacobs, seorang DJ yang punya lebih dari 5.000 pengikut di Twitter, memutuskan untuk break dari media sosial tersebut pada Januari 2016.

“Twitter membuat saya gelisah dari waktu ke waktu dan membuat saya berpikir tentang apa yang diutarakan ribuan orang tak dikenal. Saya seperti tidak kenal diri sendiri,” tuturnya.

Semenjak sign out dari Twitter, lanjut Ben, ia punya lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan lainnya.

“Tidak ada lagi momen seperti terbangun pukul tiga pagi penuh keringat dingin,” tutupnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X