Kompas.com - 08/10/2019, 07:05 WIB
Koin emas yang ditemukan di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Senin (7/10/2019). KOMPAS.COM/AJI YK PUTRAKoin emas yang ditemukan di Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Senin (7/10/2019).

KOMPAS.com - Penemuan benda-benda berupa emas, koin dan manik-manik di sekitar lahan gambut yang terbakar di Palembang menggemparkan masyarakat. Pasalnya, benda-benda ini disebut-sebut sebagai peninggalkan kerajaan Sriwijaya.

Menanggapinya, para arkeolog telah berpendapat bahwa artefak yang ditemukan belum bisa dikatakan sebagai peninggalan Sriwijaya sebelum melalui berbagai analisis dan juga observasi

Diungkapkan oleh arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Sumsel), Retno Purwanti, kepada Kompas.com, Sabtu (5/10/2019); menentukan apakah suatu benda bisa dikatakan sebagai peninggalan dinasti ataupun kerajaan tertentu tidak bisa hanya dengan dilihat saja.

Ada mekanisme tersendiri yang harus dilakukan oleh para arkeolog dalam melakukan analisis terhadap benda tersebut.

Baca juga: Harta Karun di Lokasi Karhutla Peninggalan Sriwijaya? Para Ahli Bilang Belum Tentu

"Juga sulit kita mengidentifikasi tanpa ada konteks lainnya. Misalkan, tanahnya, struktur tanah, kedalaman tanahnya, terus ada benda apalagi di sekitarnya misal. Itu butuh sekali diketahui oleh para arkeolog untuk bisa melakukan analisis, bahkan cek laboratorium dan juga observasi berkelanjutan tentang benda itu," kata Retno.

Observasi Tanah

Observasi terhadap tanah menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi suatu benda atau artefak oleh para arkeolog.

Retno mengatakan bahwa ketika akan menggali suatu tempat untuk mencari artefak, para arkeolog tidak langsung menggali sedalam-dalamnya atau sampai ketemu bendanya.

Para arkeolog akan menggali secara bertahap, sambil mengukur dan mencatat kedalaman serta tekstur tanah pada setiap tahap penggalian tersebut.

"Soalnya beda lapisan tanah beda lagi identifikasinya. Misal tanah yang lebih dalam itu kan bisa berarti artefaknya itu lebih lama juga masanya. Nah, nanti baru bisa dimasukkan ke laboratorium dan dianalisis, itu tanah menunjukkan tahun berapa," jelasnya

Menanggapi artefak yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan karena ditemukan di lahan gambut yang terkena karhutla, Retno berkata bahwa tanah yang terbakar memang mempermudah kemunculan suatu benda. Selain itu, gejolak pergeseran dalam bumi juga berpengaruh terhadap lapisan tanah dan kedalaman sebuah benda.

Baca juga: 5 Fakta Sejarah Majapahit, Kerajaan Terbesar di Nusantara

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Fenomena
Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.