Ahli Jerman Pelajari Hal Baru Soal Anak Krakatau, Apa Kata Surono?

Kompas.com - 05/10/2019, 19:32 WIB
Foto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 Wib dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut). ANTARA FOTO/BISNIS INDONESIA/NURUL HIDAYATFoto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 Wib dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut).

KOMPAS.com - Awal Oktober ini, tim peneliti dari Jerman mengeluarkan hasil riset tentang Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Indonesia. Mereka mengklaim, telah menemukan tanda sebelum longsoran atau runtuhan GAK yang memicu tsunami pada 22 Desember 2018.

Dalam jurnal ilmiah yang terbit di Nature Communication, ahli vulkanologi Jerman ungkap beberapa sinyal yang dapat mendeteksi runtuhan gunung berapi. Temuan ini diharap dapat dimanfaatkan untuk peringatan dini gunung berapi lain di masa depan.

Jurnal tersebut menyebutkan, runtuhan Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 telah memicu tsunami yang menewaskan 430 orang.

Meski begitu, ahli vulkanologi Indonesia Surono, memiliki pandangan lain.

Baca juga: Volume Runtuhan Gunung Anak Krakatau Desember 2018 Kecil, tapi Merusak

Hasil penelitian

Tim penelitian Jerman yang dipimpin oleh Thomas Walter, ahli vulkanologi di GFZ melakukan analisis lewat data satelit, data seismik, dan gelombang bunyi.

Dilansir phys.org, Rabu (2/10/2019), data satelit yang digunakan Thomas dan timnya menunjukkan peningkatan suhu dan gerakan tanah di sisi barat daya, beberapa bulan sebelum bencana.

Sementara itu, data seismik dan gelombang bunyi melihat frekuensi rendah gempa bumi berkekuatan kecil, dua menit sebelum GAK lengser.

"Melalui Gunung Anak Krakatau, kami mengamati untuk pertama kalinya, bagaimana erupsi vulkanik terjadi dan tanda bahaya sebelumnya," ujar Thomas.

"Kami menggunakan serangkaian metode yang sangat luas, dari pengamatan satelit hingga data seismik di darat, infrasonik data drone, pengukuran suhu, hingga analisis kimia produk erupsi," kata Thomas Walter.

Thomas mengklaim, data setelah tsunami memungkinkan ahli menganalisis peristiwa serupa di lokasi berbeda. Dengan kata lain, data ini dianggap berguna untuk menyusun sistem peringatan dini bencana.

Tanggapan ahli vulkanologi Indonesia

Kompas.com menghubungi ahli vulkanologi Surono dan meminta pendapatnya terhadap temuan baru tersebut. Secara spesifik, kami juga bertanya apakah temuan itu berguna sebagai masukan untuk sistem peringatan dini bencana.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Sumber PHYSORG
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X