Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Alasan Tindakan Represif Polisi Tidak Efektif Tangani Demonstrasi

Kompas.com - 02/10/2019, 08:06 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Secara sederhana, dapat digambarkan bahwa para pelaku aksi akan siap menjadi tameng satu sama lain.

Dalam konteks yang lebih ekstrem, ketika ikatan keluarga ini terbangun, dan ancaman yang riil terhadap kelompok muncul, maka dorongan untuk melakukan serangan balasan terhadap ancaman akan muncul.

Hal inilah yang mengarahkan sebuah aksi protes yang mulanya berlangsung damai, justru menjadi konflik keras sebagai akibat pendekatan represif yang dilakukan otoritas.

Tidak hanya di Indonesia

Tidak hanya di Indonesia, hal yang sama juga ditemukan dalam berbagai aksi protes di Mesir, Hong Kong, Turki, dan Ukraina.

Pertanyaannya kemudian, apakah pendekatan represif ini akan menurunkan tensi para aktivis dalam memobilisasi aksi protesnya? Alih-alih dapat bekerja secara efektif untuk menghentikan rangkaian aksi demonstrasi, pendekatan represif justru akan mendorong aksi-aksi kolektif tersebut semakin berkelanjutan.

Pola ini dapat disaksikan langsung dalam rangkaian aksi protes yang berlangsung di Hong Kong. Seiring dengan meningkatnya pendekatan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan, solidaritas antarpeserta aksi justru semakin meningkat.

Individu-individu yang tidak saling mengenal secara pribadi, dalam rangkaian aksi yang direpresi tersebut, justru menjadi sau zuk (istilah Kanton untuk menggambarkan ikatan yang sangat kuat, secara etimologis berarti ‘tangan dan kaki’) satu sama lain.

Susilo Wibisono

PhD Candidate in Social Psychology, The University of Queensland

Artikel ini ditayangkan atas kerja sama Kompas.com dan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambilkan dari artikel berjudul "‘Mengapa tindakan kekerasan polisi tidak efektif untuk menangani aksi protes mahasiswa?".

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Komentar
untuk menghindari tindakan dari aparat, sebaiknya sebelum demo, korlapnya diberitahu agar mundur bila situasi mulai tidak kondusif. seperti atmajaya kemarin.#jernihberkomentar*


Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau