Alasan Tindakan Represif Polisi Tidak Efektif Tangani Demonstrasi

Kompas.com - 02/10/2019, 08:06 WIB
Massa yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa kembali turun ke jalan melakukan aksi tolak UU KPK dan sejumlah RUU yang dinilai kontroversial, di kawasan simpang susun Semanggi, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/9/2019). KOMPAS.com/M ZAENUDDINMassa yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa kembali turun ke jalan melakukan aksi tolak UU KPK dan sejumlah RUU yang dinilai kontroversial, di kawasan simpang susun Semanggi, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/9/2019).

Oleh Susilo Wibisono


DEMONSTRASI mahasiswa dan pelajar yang berlangsung beberapa waktu belakangan sempat direspons dengan pendekatan represif oleh aparat keamanan.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung kemarin di Jakarta dikabarkan berakhir ricuh dan polisi harus menembakkan gas air mata.

Akibat tindakan represif polisi, dua mahasiswa tewas ketika melakukan berunjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara, minggu lalu.

Salah satu bentuk represi juga ditunjukkan lewat ancaman Menteri Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir terhadap rektor yang membiarkan mahasiswanya bergabung dalam aksi protes.

Meskipun ada klarifikasi kemudian yang menyatakan bahwa tidak ada rektor yang dikenai sanksi, tapi kesan bahwa aparat negara menghadapi aksi protes dengan pendekatan represif telah ditangkap oleh publik.

Kajian psikologi sosial tentang tindakan kolektif menunjukkan bahwa pendekatan represif ini tidak efektif. Alih-alih menghentikan aksi demonstrasi, penggunaan kekerasan justru akan mendorong aksi-aksi tersebut semakin berkelanjutan.

Tidak efektif

Tindakan represif mengacu pada pendekatan yang mengedepankan kekuasaan dengan mengancam, menekan bahkan melukai pihak lain. Pendekatan ini seringkali dipilih oleh otoritas dalam menghentikan berbagai aksi protes atau demonstrasi.

Munculnya narasi-narasi represif maupun tindak kekerasan fisik aparat negara dapat meningkatkan persepsi atas risiko bagi para peserta aksi.. Situasi represif yang mengarahkan pada meningkatnya persepsi atas risiko ini juga diikuti dengan meningkatnya rasa tertindas dan juga perasaan takut..

Dari sudut pandang aparat, rasa takut inilah yang diharapkan mampu menghentikan intensi untuk berpartisipasi dalam aksi protes berikutnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X