Kasus Langka, 12 Anak Autis Diduga Lahir dari Donor Sperma Tunggal

Kompas.com - 25/09/2019, 16:32 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com - Media internasional tengah ramai memberitakan kasus langka, yakni 12 anak autis yang diduga memiliki ayah biologis yang sama. Pemberitaan menyebutkan, anak-anak ini lahir dari donor sperma tunggal.

The Washington Post melaporkan pada Sabtu (14/9/2019), kasus ini terungkap ketika seorang ibu bernama Danielle Rizzo mencari tahu kenapa kedua anaknya mengidap autisme.

Perempuan asal Illnois, AS itu itu menemukan fakta bahwa kedua anaknya berasal dari donor sperma tunggal, alias pendonor sperma yang sama.

Fakta lain yang mengejutkan, Rizzo bertemu dengan beberapa ibu yang mengaku memiliki anak autis. Menariknya, anak-anak itu lahir dari pendonor sperma yang sama dengan Rizzo.

Baca juga: Anak Autis Rentan Dirundung, Kuncinya Ada di Rumah

Rizzo yakin kemiripan kasusnya dengan beberapa ibu lainnya bak membuka kamus dengan kata yang sama dan di waktu yang sama.

Berdasarkan kasus ini, mutasi genetik dianggap “bertanggungjawab” atas kejadian ini.

Pertanyaannya adalah, apakah gen autis itu benar-benar ada?

Berdasarkan Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH), jawabannya adalah tidak.

Hal ini karena ada ribuan variasi gen yang berkaitan dengan spektrum kelainan autisme.

Kebanyakan, hasil mutasi gen ini hanya meningkatkan risiko namun tidak menentukan apakah anak itu akan menjadi autis atau tidak jika ia dilahirkan.

Faktor risiko lainnya yang memengaruhi penyebab autis adalah lingkungan, usia dan kondisi orangtua (seperti kondisi rahim ibu dan kualitas sperma ayah).

Penyebab utama autisme yang disebabkan oleh mutasi genetik sangat jarang terjadi.

Berdasarkan data yang dimiliki NIH, hanya sekitar dua hingga empat persen anak pengidap autis yang disebabkan oleh mutasi genetik. Hal ini disampaikan oleh profesor spesialis anak Columbia University dr. Wendy Chung.

"Kami menyebut autisme adalah hal yang serupa tetapi tidak sama bagi setiap orang (penyebabnya). Penyebabnya ada dari gen, campuran antara gen dan lingkungan. Beberapa juga ada yang tidak diketahui penyebabnya," ujar Chung kepada The Washington Post.

Studi terhadap anak-anak Rizzo membuktikan bahwa mereka memiliki dua mutasi yang berkaitan dengan autisme yang disebut dengan MBD1 dan SHANK1.

Seperti yang dilaporkan Post, banyak klinik atau pusat kesehatan yang melakukan tes genetik namun tidak ada tes khusus autisme.

Baca juga: Jangan Abaikan Anak Autis, Lakukan Diagnosa Dini dan Gali Potensinya

Kasus ini membuat Rizzo menggugat pendonor sebanyak 25 ribu dollar Amerika atau setara dengan Rp 400 juta.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X