Demonstran, Ini Penanganan Pertama Jika Terkena Gas Air Mata

Kompas.com - 24/09/2019, 12:54 WIB
Anggota Brimob bersiap menembakkan gas air mata saat terjadi kericuhan di kantor KPK, Jakarta, Jumat (13/9/2019). Dalam aksi yang mendukung revisi UU KPK itu massa merusak karangan bunga, melempar batu dan kayu serta memaksa masuk ke halaman kantor KPK. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANAnggota Brimob bersiap menembakkan gas air mata saat terjadi kericuhan di kantor KPK, Jakarta, Jumat (13/9/2019). Dalam aksi yang mendukung revisi UU KPK itu massa merusak karangan bunga, melempar batu dan kayu serta memaksa masuk ke halaman kantor KPK.

KOMPAS.com - Banyak orang beranggapan bahwa odol ( pasta gigi) dapat menghalau gas air mata. Odol pun kerap digunakan para demonstran ketika tengah turun ke jalanan.

Apakah hal tersebut benar? Dokter mata dari Jakarta Eye Center (JEC) dr Florence Meilani Manurung, Sp.M (K) angkat bicara.

"Odol tidak bisa ya menghalau gas air mata. Gas air mata itu kan semprotan yang membuat mata perih, berair, kemudian menutup. Tapi (odol) tidak bisa (mencegah)," tuturnya kepada Kompas.com, Selasa (24/9/2019).

Baca juga: Bukan Kenangan, Ini Kandungan Asli Gas Air Mata yang Bikin Perih

Penggunaan odol, lanjut dr Florence, mungkin hanya digunakan untuk mendinginkan kelopak mata. Namun langkah itu pun menurutnya tidak tepat.

"Yang ada malah bahaya kalau odol masuk mata," tambahnya.

Lalu bagaimana penanganan yang benar jika terkena gas air mata?

"Pertama, disiram dan dibersihkan. Pakai air bersih seperti air mineral. Mata dan seluruh wajah. Jadi daripada bawa odol, lebih baik bawa air mineral," tuturnya.

Kedua adalah menggunakan kacamata pelindung, seperti kacamata hitam.

"Langkah preventifnya lebih baik bawa kacamata pelindung," tambah dr Florence.

Demonstrasi tengah berlangsung di beberapa kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan unjuk rasa untuk memprotes pengesahan sejumlah RUU yang menuai polemik.

Baca juga: Efek Gas Air Mata pada Tubuh dan Penanganannya

Sorotan mahasiswa terutama tertuju untuk menolak pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau RKUHP.

Mahasiswa juga menolak pengesahan RUU Pertanahan yang dianggap terlalu menguntungkan korporasi serta RUU Pemasyarakatan yang dinilai menguntungkan koruptor dalam mendapatkan remisi.

Selain itu, mahasiswa juga menyuarakan penolakan terhadap Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi hasil revisi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X