Gagal Total, Nyamuk yang Dimodifikasi agar Mandul Malah Beranak Pinak

Kompas.com - 17/09/2019, 20:04 WIB
Ilustrasi nyamuk TacioPhilipIlustrasi nyamuk

KOMPAS.com - Sebuah pengujian terhadap teknik eksperimental untuk mengurangi penyebaran penyakit yang dibawa nyamuk gagal total. Pasalnya, nyamuk yang telah dimodifikasi supaya mandul malah ditemukan beranak-pinak dan mengontaminasi populasi nyamuk lokal.

Hal ini terjadi di kota Jacobina, Brasil. Sebuah perusahaan bioteknologi asal Inggris, Oxytec, ingin memanfaatkan teknik modifikasi gen untuk mengurangi penyebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk, seperti demam berdarah dan zika.

Mereka pun memodifikasi nyamuk Aedes Aegypti jantan menjadi OX513A dengan cara mencampurkan gen antara strain laboratorium dari Kuba dan Meksiko.

Menurut teorinya, nyamuk yang sudah dimofidikasi ini akan memiliki gen mematikan dominan yang menghasilkan keturunan mandul atau generasi F1. Lalu, kalaupun sekitar 3-4 persen dari keturunan F1 berhasil tumbuh dewasa, para ahli Oxytec berasumsi bahwa mereka akan jadi terlalu lemah untuk berkembang biak.

Baca juga: Teknik Serangga Mandul Diklaim Ampuh Usir Nyamuk DBD, Seberapa Manjur?

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, sejak 2013 dan dalam satu periode yang berlangsung selama 27 bulan, Oxytec melepaskan 450.000 nyamuk transgenik. Mereka memprediksikan bahwa hal ini akan mengurangi populasi nyamuk lokal hingga 90 persen tanpa mempengaruhi genetik nyamuk lokal.

Para ahli juga menambahkan gen protein yang bisa menyala dalam gelap. Tujuannya, agar keturunan nyamuk OX513A bisa dilacak dengan mudah.

Kegagalan yang Tak Diprediksi

Namun, penelitian dari Yale University yang dipimpin oleh pakar ekologi dan biologi evolusioner, Jeffrey Powell, dan diterbitkan dalam Scientific Reports menemukan bahwa gen OX513A telah masuk ke populasi alami nyamuk Jacobina.

Artinya, tidak benar bahwa keturunan OX513A langsung mati. Nyamuk yang dimodifikasi ini justru berhasil beranak pinak dan mengontaminasi gen nyamuk lokal.

Para peneliti dari Yale mendapatkan hasil ini setelah mengambil sampel genetik dari nyamuk lokal sebelum dan sesudah pelepasan OX513A. Untuk yang setelahnya, pengambilan sampel dilakukan pada bulan keenam, 12 dan 27-30.

Rupanya, prediksi para peneliti Oxytec bekerja selama beberapa bulan pertama. Jumlah populasi nyamuk berkurang drastis. Namun setelah 18 bulan, populasi nyamuk mulai kembali hingga ke jumlah awal sebelum nyamuk modifikasi dilepaskan.

Baca juga: Mengenal CRISPR, Metode Baru untuk Mengganti dan Modifikasi Gen

Menurut para peneliti Yale, hal ini mungkin terjadi karena adanya fenomena "diskriminasi kawin" di mana nyamuk betina lokal menghindari perkawinan dengan nyamuk jantan yang sudah dimodifikasi.

Keturunan F1 juga mungkin tidak selemah yang diperkirakan. Ini membuat nyamuk lokal kini memiliki materi genetik dari nyamuk Cuba dan Mexico. Percampuran ini bisa memicu fenomena "kekuatan hibrida" di mana diversitas genetik malah menghasilkan spesies yang lebih tangguh.

Untungnya, hingga saat ini para peneliti belum menemukan risiko eksehatan dari nyamuk hibrida. Namun, menurut Powell, yang menakutkan adalah kemungkinan yang tidak diantisipasi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Gizmodo
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X