Kompas.com - 17/09/2019, 17:05 WIB
Ilustrasi Diy13/ThinkstockIlustrasi

KOMPAS.com - Bagi Anda yang suka jajan di luar, mungkin setelah membaca artikel ini Anda akan mengurungkan niat untuk jajan sembarangan lagi. Pasalnya, bias jadi makanan yang Anda konsumsi terkontaminasi salah satu dari patogen yang kita akan bahas lebih lanjut nanti dan menyebabkan gangguan pencernaan.

Bergantung pada bakteri penyebab dan jumlah yang masuk ke dalam tubuh, gejala penyakit diare dapat muncul mulai dari hitungan jam sampai 2 hari setelah mengonsumsi makanan yang tercemar. Konsumsi tidak hanya dari makanan, patogen penyebab diare juga bisa masuk melalui air minum, peralatan makanan yang tidak higienis, dan berenang di air tercemar.

Menurut WebMD, gejala yang umum dikeluhkan adalah tingginya frekuensi ke kamar mandi dengan konsistensi feses yang cenderung berair, disertai kram pada perut dan mual. Lebih berbahaya lagi apabila diare tidak kunjung mereda dan menyebabkan dehidrasi, atau keluarnya kotoran disertai darah.

Baca juga: Tak Direkomendasikan WHO, Amankah Minum Obat Penghenti BAB Saat Diare?

Ada beberapa jenis patogen yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan menyebabkan prevalensi diare yang tinggi di kalangan masyarakat.

Bakteri

Dari kelas bakteri, telah dilakukan penelitian oleh U.S. Naval Medical Research atau badan penelitian angkatan laut Amerika Serikat yang bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Indonesia.

Dari 6.760 sampel diare yang di ambil dari beberapa kota di Indonesia dalam periode dua tahun, 587 (9%) diantaranya teruji positif mengandung bakteri. Bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Shigella flexneri, disusul dengan bakteri Vibrio spp. dan Eschericia coli.

Hal menarik dari penelitian ini adalah ditemukannya kembali prevalensi bakteri Shigella dysentriae di kota Batam, Jakarta, juga pada beberapa area di Bali dan Kalimantan setelah 15 tahun tidak terdeteksi. Shigella dysentriae adalah bakteri penyebab penyakit disentri yang menyebabkan diare yang lebih akut.

Tidak hanya masyarakat lokal yang terancam bahaya patogen penyebab diare ini. Salah satu alasan mengapa badan penelitian angkatan laut asing melakukan penelitian ini adalah untuk menentukan faktor risiko (risk factor), mengingat banyaknya warga negara mereka yang berkunjung dalam rangka wisata maupun dinas ke Indonesia.

Baca juga: Waspadai Diare Rotavirus

Salah satu penelitian yang juga terfokus pada prevalensi diare pada pendatang juga telah dilakukan di tujuan wisata terpopuler di Indonesia yaitu pulau Bali. Sebanyak 71 wisatawan asing yang menjalani perawatan karena diare bersedia berpartisipasi.

Menariknya, penelitian yang diprakarsai oleh akademisi Universitas Warmadewa Bali dr. D.M.A Sri Masyeni, Sp.PD-KPTI, ini juga membandingkan adanya infeksi gabungan dengan parasit lain.

Penelitian ini dapat menghubungkan bahwa co-infection antara bakteri dan parasit Entamoeba sp. rata-rata diikuti dengan gejala mual. Subyek penelitian dengan sampel mengandung parasit juga ditemukan pada frekuensi yang cukup tinggi berkaitan dengan keluhan kram perut dan adanya darah pada feses.

Virus

Penyebab diare lainnya yang tidak banyak di ketahui khalayak adalah virus. Dalam bahasa awam, penyakit yang disebabkan oleh virus sering dikenal dengan flu perut. Ada dua macam virus yang menjadi penyebab diare akut yaitu Rotavirus dan Norovirus.

Rotavirus banyak ditemukan pada anak-anak. Pada tahun 2018, Indonesia telah bekerja sama dengan Australia untuk melaksanakan clinical trial vaksin Rotavirus untuk anak-anak berusia diatas enam minggu.

Vaksin ini diharapkan dapat melindungi bayi dari diare yang disebabkan oleh rotavirus hingga berusia satu tahun. Bahkan, 75% dari peserta clinical trial kebal terhadap rotavirus sampai pada usia 18 bulan.

Perbedaan yang signifikan dari diare yang disebabkan oleh bakteri dan virus adalah, biasanya virus yang menyebabkan diare dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan menguatnya sistem imun, sehingga penggunaan antibiotik sebagaimana pada diare akibat bakteri tidak akan efektif dan tidak diperlukan.

Baca juga: Sering Bikin Tubuh Terasa Ringan, Buang Air Besar Bisa Turunkan Berat Badan?

Tubuh kita akan membangun kekebalan tubuh terhadap virus penyebab diare, sehingga apabila terjadi infeksi berulang, gejala yang kita alami tidak akan separah sebelumnya.
Namun perlu diingat bahwa virus memiliki banyak subtipe genetik, sebagaimana disebutkan dalam penelitian Soenarto dan kolega dalam Journal of Infectious Diseases.

Pada vaksin yang sedang di kembangkan dan diujicobakan di atas, vaksin diambil dari sampel feses bayi baru lahir yang mengandung rotavirus RV-3 subtipe G3P[6] namun tidak menunjukkan gejala diare.

Menurut studi yang dilakukan Soenarto dan kolega, subtipe P[6] pada rotavirus sangat banyak ditemukan di Indonesia. Mungkin inilah yang menyebabkan pengujian klinis vaksin yang dilakukan bekerjasama dengan Australia berjalan dengan sukses.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.