Tak Direkomendasikan WHO, Amankah Minum Obat Penghenti BAB Saat Diare?

Kompas.com - 13/04/2019, 10:57 WIB
IlustrasiDiy13/Thinkstock Ilustrasi


BOGOR, KOMPAS.com - Ketika sedang dilanda diare, mungkin hal pertama yang Anda lakukan adalah meminum obat-obatan penghenti diare. Namun, rupanya tindakan ini tidak direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia ( WHO).

Hal tersebut diungkapkan oleh dr Felix Samuel, M.Kes, Dokter Umum dan Kepala Unit Emergency RS Pondok Indah dalam paparan bertajuk "Kasus Gawat Darurat Saat Liburan" di Royal Tulip Gunung Geulis Resort & Golf, Bogor, Jumat (12/4/2019).

Dia mengatakan, diare merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan toksin. Karena tidak nyaman, loperamide diminum untuk menghentikan diare. Namun, hal ini bisa berbahaya.

Baca juga: Selain Makanan Tercemar, Kenali Apa Saja Penyebab Diare

Pasalnya, loperamide bekerja dengan memperlambat gerakan usus sehingga frekuensi buang air besar berkurang. Pada diare non spesifik, seperti diare yang disebabkan oleh alergi susu atau santan, mungkin hal ini tak akan menjadi masalah.

Namun pada kasus diare serius, seperti disentri, penggunaan loperamide malah bisa menyebabkan nyeri perut dan kembung, sementara diare tidak selesai dan akan berlanjut setelah efek loperamide hilang.

"Makanya yang harus kita obati bukan gejalanya, tetapi penyebabnya," ujar Felix.

Selain itu, diare akut atau gastroenteritis yang biasanya terjadi saat liburan sebetulnya bisa sembuh sendiri dalam tujuh hari bila disebabkan oleh virus. Namun bila disebabkan oleh bakteri, penanganannya memang memerlukan antibiotik.

Felix pun menjelaskan cara membedakan bila diare disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit yang ditandai dengan berak encer lebih dari tiga kali sehari pada umumnya, terutama pada anak-anak, disebabkan oleh virus.

Ketika disebabkan oleh virus, seperti rotavirus, umumnya frekuensinya lebih sering daripada yang disebabkan oleh bakteri. Diare akibat virus juga sering disertai oleh demam tinggi. Selain itu, tinja bersifat asam sehingga dapat menimbulkan ruam pada pantat.

Sebaliknya, frekuensi diare akibat bakteri biasanya tidak sesering diare akibat virus walaupun tetap lebih dari tiga kali sehari. Demam yang menyertainya juga tidak setinggi yang disebabkan oleh virus. Namun, diare jenis ini biasanya juga dibarengi nyeri perut, dan pada kasus-kasus disentri, juga menimbulkan buang air besar berdarah.

Untungnya, tata laksana keduanya tidak jauh berbeda.

Pertama, diperlukan rehidrasi atau fluid management. Ketika diare, zat pertama yang hilang dari tubuh adalah elektrolit dan cairan. Oleh karena, pasien perlu diberikan oral hydration solution (oralit) sebagai pengganti.

Setelah rehidrasi dilaksanakan, pasien diare juga harus makan sesegera mungkin.

"Tubuh perlu kalori, jangan malah enggak mau makan," kata Felix.

Pasien anak-anak juga perlu mengonsumsi zinc 10-20 mg setiap hari selama 14 hari untuk membantu menangani diare. Sementara itu, seperti diungkapkan di atas, antibiotik hanya diberikan bila diare disebabkan oleh bakteri.

Baca juga: Konsumsi Obat Diare Berlebihan Bisa Sebabkan Penyakit Jantung

Akan tetapi, apabila diare disertai penyulit, maka pasien harus segera dibawa ke dokter untuk mendapat penangan lebih lanjut.

Felix menjelaskan bahwa penyulit ini seperti muntah-muntah hebat, padahal pasien diare memerlukan rehidrasi; demam yang menandakan infeksi dan dehidrasi pada anak-anak.

"Orang dewasa 2-3 hari bisa bertahan (drngan diare), tapi kalau anak-anak itu (kalau dehidrasi) jadi lemas, ngantuk, dan tidak mau makan atau minum," imbuhnya.




Close Ads X