Diare Tidak Selalu karena Kuman, Ini Penyebab Paling Umum di Indonesia

Kompas.com - 17/09/2019, 17:05 WIB

Penelitian ini dapat menghubungkan bahwa co-infection antara bakteri dan parasit Entamoeba sp. rata-rata diikuti dengan gejala mual. Subyek penelitian dengan sampel mengandung parasit juga ditemukan pada frekuensi yang cukup tinggi berkaitan dengan keluhan kram perut dan adanya darah pada feses.

Virus

Penyebab diare lainnya yang tidak banyak di ketahui khalayak adalah virus. Dalam bahasa awam, penyakit yang disebabkan oleh virus sering dikenal dengan flu perut. Ada dua macam virus yang menjadi penyebab diare akut yaitu Rotavirus dan Norovirus.

Rotavirus banyak ditemukan pada anak-anak. Pada tahun 2018, Indonesia telah bekerja sama dengan Australia untuk melaksanakan clinical trial vaksin Rotavirus untuk anak-anak berusia diatas enam minggu.

Vaksin ini diharapkan dapat melindungi bayi dari diare yang disebabkan oleh rotavirus hingga berusia satu tahun. Bahkan, 75% dari peserta clinical trial kebal terhadap rotavirus sampai pada usia 18 bulan.

Perbedaan yang signifikan dari diare yang disebabkan oleh bakteri dan virus adalah, biasanya virus yang menyebabkan diare dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan menguatnya sistem imun, sehingga penggunaan antibiotik sebagaimana pada diare akibat bakteri tidak akan efektif dan tidak diperlukan.

Baca juga: Sering Bikin Tubuh Terasa Ringan, Buang Air Besar Bisa Turunkan Berat Badan?

Tubuh kita akan membangun kekebalan tubuh terhadap virus penyebab diare, sehingga apabila terjadi infeksi berulang, gejala yang kita alami tidak akan separah sebelumnya.
Namun perlu diingat bahwa virus memiliki banyak subtipe genetik, sebagaimana disebutkan dalam penelitian Soenarto dan kolega dalam Journal of Infectious Diseases.

Pada vaksin yang sedang di kembangkan dan diujicobakan di atas, vaksin diambil dari sampel feses bayi baru lahir yang mengandung rotavirus RV-3 subtipe G3P[6] namun tidak menunjukkan gejala diare.

Menurut studi yang dilakukan Soenarto dan kolega, subtipe P[6] pada rotavirus sangat banyak ditemukan di Indonesia. Mungkin inilah yang menyebabkan pengujian klinis vaksin yang dilakukan bekerjasama dengan Australia berjalan dengan sukses.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.