Kompas.com - 09/09/2019, 19:06 WIB
Penampakan Kampung Kusta di Tangerang. Gambar diambil pada Selasa (20/8/2019). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOPenampakan Kampung Kusta di Tangerang. Gambar diambil pada Selasa (20/8/2019).

KOMPAS.com - Meski manusia telah berkutat dengan penyakit lepra sepanjang sejarahnya, rupanya masih banyak mitos mengenai penyakit ini yang salah kaprah.

Mitos-mitos ini meninggalkan stigma mendalam bagi para penderita kusta dan membuat banyak kasus kusta terlambat didiagnosis dan diobati.

Berikut adalah beberapa mitos yang diluruskan oleh Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dr dr Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, SpKK(K) yang akrab disebut dr Dini ketika ditemui di ruang kerjanya di RSCM, Selasa (3/9/2019):

1. Kusta penyakit kutukan

Kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat.

"Kusta ini bukan penyakit kutukan seperti yang dipikirkan orang-orang yang belum tahu itu, karena kusta ini penyebabnya jelas, pengobatannya juga ada, cuma mereka (penderitanya) saja yang kadang tidak tahu kalau mereka kena gejala kusta dan terlambat mengobatinya," ujar dr Dini.

Baca juga: 3 Cara Mudah Mendeteksi Dini Kusta agar Tidak Sampai Cacat

Penularan dapat terjadi karena kontak lama, 3-5 tahun atau lebih lama, antara penderita kusta yang tidak diobati kepada orang yang sehat melalui pernapasan.

Itulah sebabnya, tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu berkontak dengan penderita. Secara statistik, hanya lima persen saja yang akan tertular.

Baca juga: Kusta Bisa Dicegah, Berikut Saran Dokter untuk Mencegahnya

Dokter Dini pun berkata bahwa penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang paling rendah penularannya. Anggota keluarga pun tertular jika penderitanya tidak minum obat secara teratur.

2. Penyakit orang miskin

Banyak orang menganggap kusta sebagai penyakit orang miskin saja. Padahal, seperti disampaikan oleh Dini, penyakit ini bisa menyerang semua golongan sosial dan ekonomi masyarakat.

"Di Jakarta ini, bahkan banyak golongan masyarakat menengah ke atas yang terkena kusta. Kusta bukan penyakit orang miskin saja kok," tegas dr. Dini.

Baca juga: Mengenal Tipe Kusta pada Tubuh dan Karakteristiknya

"Kan bakteri kusta ini ataupun bakteri penyakit lain itu sangat mudah menyerang kalau daya tahan tubuh sedang tidak baik, Ya kayak orang kebanyakan di Jakarta yang lelah kerja, lelah macet, timbul stres dan lainnya, jadi imunitasnya berkurang. Itu bisa sekali memicu siapa saja terinfeksi bakteri apa pun," imbuh dr Dini.

3. Penyakit orang dewasa dan manula

Dinyatakan oleh dr Dini, kusta dapat dialami oleh segala jenjang usia, baik itu anak-anak, dewasa atau manula.

Meski demikian, memang golongan usia dewasa 20-40 tahun adalah yang paling banyak terkena penyakit kusta, khususnya di Indonesia.

Baca juga: Perjuangan Hidup Abdul Wahab, Tak Patah karena Kusta

Lalu, jika melihat pada perbandingan antara wanita dan pria, kasus kusta pada pria lebih banyak dibandingkan kasus kusta yang terjadi pada wanita.

4. Penderita kusta perlu dikucilkan

Ditegaskan oleh dr Dini, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang pasien kusta adalah dukungan dan motivasi dari keluarga agar patuh menjalani pengobatan.

Baca juga: Waspada Gejala Kusta Sebelum Alami Cacat Tubuh Permanen

Dokter Dini mengakui bahwa di era modern pun, banyak masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit kuukan sehingga penderitanya sering dikucilkan dan menerima perlakuan diskriminatif.

Lalu kalaupun tidak memercayai mitos di atas, banyak orang mengira kusta sebagai penyakit yang luar biasa menular sehingga merasa jijik dan menghindari penderita kusta.

"Makanya masih banyak masyarakat di kita (Indonesia) sendiri yang malu kalau ketahuan kusta, itulah (alasan) mereka rela berobat keluar daerah karena malu dikucilkan dan dijauhi oleh teman ataupun tetangga dan kerabatnya," kata dr Dini.

Baca juga: Penyebab dan Penyebaran Kusta yang Perlu Anda Ketahui

"Sama kayak dulu, stigma orang memandang HIV-AIDS itu perlu dijauhi atau dihindari (karena) takut menular, atau jijik dan lainnya. Sekarang, stigma itu sudah mulai bergeser. Mereka yang terkena HIV-AIDS sudah dianggap punya hak sosial yang sama. Inilah yang perlu diberlakukan juga pada penderita kusta," imbuhnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Fenomena
NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Fenomena
WHO Selidiki Keterkaitan Virus Corona dengan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

WHO Selidiki Keterkaitan Virus Corona dengan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Oh Begitu
Kapan Seseorang Dikatakan Hipertensi? Kenali Gejalanya

Kapan Seseorang Dikatakan Hipertensi? Kenali Gejalanya

Kita
Apakah Hepatitis Akut Misterius Berpotensi jadi Pandemi Berikutnya?

Apakah Hepatitis Akut Misterius Berpotensi jadi Pandemi Berikutnya?

Oh Begitu
Surabaya Cuaca Terpanas di Indonesia, Berikut Wilayah dengan Suhu Paling Panas

Surabaya Cuaca Terpanas di Indonesia, Berikut Wilayah dengan Suhu Paling Panas

Fenomena
BMKG Ungkap 5 Penyebab Suhu Udara Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini

BMKG Ungkap 5 Penyebab Suhu Udara Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini

Fenomena
Apa Itu Perilaku Manipulatif dan Ciri-cirinya

Apa Itu Perilaku Manipulatif dan Ciri-cirinya

Kita
Cuaca Panas Indonesia, Pantau Suhu Maksimum Harian Lewat Link Ini

Cuaca Panas Indonesia, Pantau Suhu Maksimum Harian Lewat Link Ini

Oh Begitu
Nelayan Tangkap Ikan Pari Air Tawar Raksasa di Sungai Mekong, Seperti Apa?

Nelayan Tangkap Ikan Pari Air Tawar Raksasa di Sungai Mekong, Seperti Apa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.