Salin Artikel

4 Mitos Kusta yang Salah Kaprah, Jangan Lagi Dipercaya

KOMPAS.com - Meski manusia telah berkutat dengan penyakit lepra sepanjang sejarahnya, rupanya masih banyak mitos mengenai penyakit ini yang salah kaprah.

Mitos-mitos ini meninggalkan stigma mendalam bagi para penderita kusta dan membuat banyak kasus kusta terlambat didiagnosis dan diobati.

Berikut adalah beberapa mitos yang diluruskan oleh Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dr dr Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, SpKK(K) yang akrab disebut dr Dini ketika ditemui di ruang kerjanya di RSCM, Selasa (3/9/2019):

1. Kusta penyakit kutukan

Kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat.

"Kusta ini bukan penyakit kutukan seperti yang dipikirkan orang-orang yang belum tahu itu, karena kusta ini penyebabnya jelas, pengobatannya juga ada, cuma mereka (penderitanya) saja yang kadang tidak tahu kalau mereka kena gejala kusta dan terlambat mengobatinya," ujar dr Dini.

Penularan dapat terjadi karena kontak lama, 3-5 tahun atau lebih lama, antara penderita kusta yang tidak diobati kepada orang yang sehat melalui pernapasan.

Itulah sebabnya, tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu berkontak dengan penderita. Secara statistik, hanya lima persen saja yang akan tertular.

Dokter Dini pun berkata bahwa penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang paling rendah penularannya. Anggota keluarga pun tertular jika penderitanya tidak minum obat secara teratur.

2. Penyakit orang miskin

Banyak orang menganggap kusta sebagai penyakit orang miskin saja. Padahal, seperti disampaikan oleh Dini, penyakit ini bisa menyerang semua golongan sosial dan ekonomi masyarakat.

"Di Jakarta ini, bahkan banyak golongan masyarakat menengah ke atas yang terkena kusta. Kusta bukan penyakit orang miskin saja kok," tegas dr. Dini.

"Kan bakteri kusta ini ataupun bakteri penyakit lain itu sangat mudah menyerang kalau daya tahan tubuh sedang tidak baik, Ya kayak orang kebanyakan di Jakarta yang lelah kerja, lelah macet, timbul stres dan lainnya, jadi imunitasnya berkurang. Itu bisa sekali memicu siapa saja terinfeksi bakteri apa pun," imbuh dr Dini.

3. Penyakit orang dewasa dan manula

Dinyatakan oleh dr Dini, kusta dapat dialami oleh segala jenjang usia, baik itu anak-anak, dewasa atau manula.

Meski demikian, memang golongan usia dewasa 20-40 tahun adalah yang paling banyak terkena penyakit kusta, khususnya di Indonesia.

Lalu, jika melihat pada perbandingan antara wanita dan pria, kasus kusta pada pria lebih banyak dibandingkan kasus kusta yang terjadi pada wanita.

4. Penderita kusta perlu dikucilkan

Ditegaskan oleh dr Dini, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang pasien kusta adalah dukungan dan motivasi dari keluarga agar patuh menjalani pengobatan.

Dokter Dini mengakui bahwa di era modern pun, banyak masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit kuukan sehingga penderitanya sering dikucilkan dan menerima perlakuan diskriminatif.

Lalu kalaupun tidak memercayai mitos di atas, banyak orang mengira kusta sebagai penyakit yang luar biasa menular sehingga merasa jijik dan menghindari penderita kusta.

"Makanya masih banyak masyarakat di kita (Indonesia) sendiri yang malu kalau ketahuan kusta, itulah (alasan) mereka rela berobat keluar daerah karena malu dikucilkan dan dijauhi oleh teman ataupun tetangga dan kerabatnya," kata dr Dini.

"Sama kayak dulu, stigma orang memandang HIV-AIDS itu perlu dijauhi atau dihindari (karena) takut menular, atau jijik dan lainnya. Sekarang, stigma itu sudah mulai bergeser. Mereka yang terkena HIV-AIDS sudah dianggap punya hak sosial yang sama. Inilah yang perlu diberlakukan juga pada penderita kusta," imbuhnya.

https://sains.kompas.com/read/2019/09/09/190600223/4-mitos-kusta-yang-salah-kaprah-jangan-lagi-dipercaya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.