Penyebab dan Penyebaran Kusta yang Perlu Anda Ketahui

Kompas.com - 09/09/2019, 07:31 WIB
Juleha (34), eks penderita penyakit kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOJuleha (34), eks penderita penyakit kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya.

KOMPAS.com - Untuk terhindar dari penyakit kusta, Anda perlu mengetahui apa penyebab dari penyakit yang dianggap sepele namun bisa fatal bila tidak segera diobati ini.

Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen ( Kusta), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, SpKK(K), menjelaskan penyebab dan penyebaran kusta kepada Kompas.com ketika ditemui di ruangan kerjanya, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI, RSCM, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Disampaikan oleh dokter yang akrab disapa Dini ini, kusta bisa menular antar manusia melalui udara (pernapasan) ataupun sentuhan, dengan catatan terjadi dalam jangka waktu yang panjang.

Oleh karena itu, tidak perlu khawatir bila Anda hanya bertemu atau bersentuhan dengan penderita kusta untuk waktu yang singkat.

"Kusta memang bisa menular dengan udara pernapasan atau sentuhan langsung yang lama dan erat, tapi perlu digarisbawahi yang lama dan erat itu ya," kata Dini.

Baca juga: Penyembuhan Kusta, Keluarga Penting untuk Dorong Semangat

Penularan membutuhkan waktu lama, rata-rata 3 hingga 5 tahun, bahkan dapat lebih lama. Disebut bahwa narakontak serumah ialah orang yg tinggal serumah dengan penderita.

"Makanya yang sering atau yang berpotensi terjangkit itu adalah mereka yang tinggal serumah biasanya, karena jangka bertemu dan bersentuhannya lebih lama. Tapi ini juga untuk mereka penderita kusta tipe lepromaktosa (kusta level berat), yang bakterinya memang sudah banyak sekali," imbuhnya lagi.

Meski sering menginfeksi satu keluarga, Dini menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit keturunan.

Hendra, penderita penyakit kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Ia telah menjalani pengobatan penyakit kusta selama 1,5 tahun di RS dr. Sitanala.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Hendra, penderita penyakit kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Ia telah menjalani pengobatan penyakit kusta selama 1,5 tahun di RS dr. Sitanala.

Memang pada saat ini, Dini dan tim sedang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor genetika yang berpengaruh terhadap penyebaran kusta ini. Namun, faktor genetika yang dimaksudkan lebih pada ras mana seseorang berasal.

"Ya, seperti di Indonesia sendiri kan paling banyak Indonesia bagian Timur yang kena, sementara daerah lain agak jarang. Makanya penelitian faktor genetika atau ras ini digarap," tutur Dini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X