Bisakah Perempuan Memiliki Otot Kekar seperti Lelaki?

Kompas.com - 23/08/2019, 17:35 WIB
Ilustrasi perempuan berotot ShutterstockIlustrasi perempuan berotot

KOMPAS.com - Di Indonesia, bodybuilding sering kali diidentikan dengan laki-laki. Pasalnya, banyak yang beranggapan bahwa perempuan tidak akan bisa punya otot kekar seperti laki-laki. Namun, benarkah demikian?

Dilansir dari Hellosehat, 18 September 2018; perempuan juga bisa membentuk otot yang kekar. Namun, otot perempuan tidak bisa disamakan kekuatan dan besarnya dengan otot laki-laki.

Hal ini karena kadar hormon dan porsi lemak yang berbeda pada laki-laki dan perempuan. Umumnya, perempuan memiliki 20 hingga 25 persen lemak tubuh dari total berat badannya, sedangkan pada laki-laki memiliki kadar lemak tubuh sekitar 10 sampai dengan 15 persen.

Pada tingkat atlet pun, perempuan biasanya memiliki kadar lemak 8 persen, sedangkan laki-laki 4 persen.

Di samping komposisi lemak, hormon testosteron juga berpengaruh dan membuat otot laki-laki menjadi lebih mudah dibentuk dan cenderung lebih besar daripada perempuan. Pada perempuan, hormon testoteron juga ada tetapi lebih sedikit.

Baca juga: Awas, Pamer Otot Berisiko Terkena Hipoksia

Meski demikian, bukan berarti perempuan tidak bisa berlatih untuk memperkuat otot. Menurut studi yang diterbitkan dalam The Journal of Gerontology pada tahun 2000, respons tubuh yang terjadi pada perempuan dan laki-laki ketika menjalani latihan hampir sama.

Cerita Amelinda

Amelinda Mulia (21) merupakan salah satu wanita yang rutin pergi ke gym. Wanita asal Jakarta ini sudah rutin pergi ke gym sejak ia berusia 16 tahun.

“Motivasi saya pergi ke gym awalnya karena saya mudah letih, lelah, dan stres ketika banyak tugas di sekolah. Kemudian, motivasi kedua adalah kesehatan mental. Yang terakhir adalah saya dapat mencoba tantangan-tantangan baru melalui gym dan angkat beban,” tutur wanita yang kerap disapa Linda ini.

Baca juga: Studi Buktikan, Konsistensi Waktu adalah Kunci Keberhasilan Olahraga

 

Sebelum pergi ke gym, dia pasti mengonsumsi makanan yang kandungan karbohidrat cukup tinggi sebagai energi, seperti pisang, dan mengonsumsi makanan dan minuman berprotein, seperti telur dan whey protein. Linda juga akan memastikan telah tidur cukup sekitar 7-9 jam pada malam harinya.

Lalu ketika sudah sampai di gym dan sebelum mulai latihan, Linda akan melakukan stretching terlebih dahulu untuk bagian-bagian tubuh tertentu agar terhindar risiko cedera.

Semenjak Linda pergi ke gym, dia merasakan banyak manfaat positif, seperti lebih bisa mengatur emosi di tengah kesibukan, tubuh yang lebih sehat dan pola hidup seimbang.

Terkait penampilannya yang dianggap lebih kekar daripada wanita kebanyakan, Linda memilih untuk tidak ambil pusing. Komentar-komentar miring soal tubuhnya digunakan oleh Linda untuk semakin semangat memperbaiki massa otot dan metabolismenya. (Hana Nushratu)

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X