Heboh Bajakah Obati Kanker, Sudahkah Pemberitaan Kita Proporsional?

Kompas.com - 14/08/2019, 10:00 WIB
Ekslusif AIMAN yang ditayangkan Kompas TV, Senin (12/8/2019) malam mengenai tanaman bajakah yang diklaim menyembuhkan kanker. KOMPAS TVEkslusif AIMAN yang ditayangkan Kompas TV, Senin (12/8/2019) malam mengenai tanaman bajakah yang diklaim menyembuhkan kanker.

“Jika urusan polifenol, tannin dan kawan-kawan saja, apel pun punya," tegas Tan.

"Dan pada dasarnya semua functional food, sayur dan buah kaya antioksidan tersebut. Tapi untuk disebut sebagai obat kanker, ini lebay sekali,” sambungnya.

Baca juga: Bajakah untuk Obat Kanker, Apa yang Harus Dilakukan Usai Kehebohannya?

Selain itu, menurut Tan, induksi tumor pada mencit pun tidak melalui tahapan patologi anatomi.

"Jenis apa benjolan yang dihasilkan si mencit? Kanker? Apa jenis kankernya? Ada di jaringan apa? Bagaimana dengan replikasi pada manusia? Bagaimana mengukur dosis letal? Masih banyak lagi," kata Tan.

"Jadi jika abstrak dan tulisan penelitiannya disebut High Contents of Antioxidant in Bajakah Potential For Further Research in Cancer Treatment barangkali lebih masuk akal," tegasnya.

Tan juga menjelaskan ada beberapa faktor penemuan obat kanker yang diteliti oleh Siswa SMA 2 Palangkaraya tersebut perlu pembuktian keilmuan terutama dalam bidang kedokteran.

Bukan rahasia lagi jika bidang kedokteran melandaskan ilmunya dengan uji klinis dan pembuktian berdasarkan metodologi ilmiah. Subjek uji coba yang diperlukan juga harus homogen dan tidak hanya bersumber pada satu sampel percobaanyang dinamakan evidence based.

"Kedokteran melandaskan ilmunya dengan EVIDENCE BASED. Artinya, klaim-klaim kebenaran harus melalui uji, pembuktian, sesuai kaidah metodologi ilmiah. Jumlah subjek, sampel, DIHITUNG sesuai jenis studinya. Jadi nggak bisa 1 orang dijadikan landasan klaim 'keberhasilan' tindakan atau pengobatan," tegasnya.

Evidence based juga terdapat tahapan proses yang harus dilakukan dimulai dengan tahap percobaan kepada hewan, dan pada fase akhir dilakukan praktet langsung melihat dampak uji coba dalam jangka Panjang.

Evidence based medicine juga punya hirarki. Tidak semua jenis studi punya nilai yang sama. Jadi, pendapat pakar saja itu sangat lemah," ujar Tan.

Baca juga: Bukan Hanya Manusia, Orangutan Pun Merasakan Manfaat Bajakah

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X