Heboh Bajakah Obati Kanker, Sudahkah Pemberitaan Kita Proporsional?

Kompas.com - 14/08/2019, 10:00 WIB
Ekslusif AIMAN yang ditayangkan Kompas TV, Senin (12/8/2019) malam mengenai tanaman bajakah yang diklaim menyembuhkan kanker. KOMPAS TVEkslusif AIMAN yang ditayangkan Kompas TV, Senin (12/8/2019) malam mengenai tanaman bajakah yang diklaim menyembuhkan kanker.

 

KOMPAS.com – Beberapa waktu belakangan nama tanaman bajakah mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia menyusul prestasi tiga siswa asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang memenangkan medali emas dalam kompetisi sains di Korea Selatan.

Dalam penelitian tersebut, mereka mengklaim bahwa tanaman bajakah memiliki senyawa yang mampu melawan kanker.

Penelitian tentang bajakah sebagai obat pembunuh kanker ini mendapat sambutan meriah dari para warganet. Kebanyakan menyambut baik hasil studi pada siswa SMA 2 Palangkaraya tersebut.

Meski begitu, dokter sekaligus ahli nutrisi, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum menilai pemberitaan mengenai penelitian siswa SMA 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini belum proporsional.

Baca juga: Fakta di Balik Khasiat Kayu Bajakah Sembuhkan Kanker, Hidup di Hutan hingga Dianggap Tanaman Mistis

"Sudah waktunya reportase indonesia lebih bergengsi, punya literasi ketimbang mengejar sensasi. Buat apa rating naik, tapi yang disebarkan adalah impulsivitas sesaat orang-orang yang tidak diarahkan untuk kepentingan umat manusia ke depannya," ungkapnya kepada Kompas.com, Selasa (13/8/2019).

"Bisa dibayangkan, pembimbing atau guru-guru kita yang juga terlalu terburu-buru mengejar euforia, padahal bisa jadi judul paper dan isi penelitian serta kolom diskusi nya tidak seheboh pemberitaan nasional" imbuh Tan.

Pemberitaan tentang penemuan tersebut memang menimbulkan kontroversi sebab diklaim dapat menghilangkan sel kanker dalam tubuh.

Namun, hingga saat ini, penelitian tersebut belum sampai pada uji klinis. Terkait dengan penemuan tersebut masih dinilai perlu penelitian lebih lanjut.

Tan menilai pemberitaan mengenai khasiat tanaman bajakah ini terlalu berlebihan. Pasalnya, kandungan senyawa yang ada di tanaman bajakah juga ada pada tumbuhan lain.

Seperti yang diketahui, penilitian para siswa SMA 2 Palangkaraya itu dilanjutkan dengan uji sampel penelitian lanjutan, yang menggunakan dua ekor mencit atau tikus betina atau tikus kecil berwarna putih. Dua mencit tersebut sudah di induksi atau disuntikan zat pertumbuhan sel tumor atau kanker.

Sel kanker berkembang di tubuh tikus ditandai dengan ciri banyaknya benjolan pada tubuh, mulai dari ekor hingga bagian kepala. Beberapa hasil uji laboratorium ditemukan fenolik, steroid, tannin, alkonoid, saponin, terpenoid, hingga alkonoid pada tumbuhan Bajakah.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X