Kompas.com - 07/08/2019, 16:29 WIB
Sembilan hektar lahan gambut di Majene terbakar dan merembet ke permukiman warga. Warga panik karena dikepung asap tebal, Selasa (6/8/2019). KOMPAS.com/JUNAEDISembilan hektar lahan gambut di Majene terbakar dan merembet ke permukiman warga. Warga panik karena dikepung asap tebal, Selasa (6/8/2019).

KOMPAS.com - Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menjelaskan, pada musim kemarau tahun ini terdapat enam provinsi yang sudah menetapkan keadaan darurat untuk kebakaran hutan dan lahan.

Dia menambahkan, pemerintah fokus menangani bencana kebakaran hutan dan lahan di keenam provinsi itu yang memiliki lahan gambut yang luas.

"Yang menyatakan siaga darurat sudah ada enam (provinsi), Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimanatan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Mereka sudah menyatakan siaga darurat bencana karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Yang paling terakhir menyatakan siaga darurat adalah Jambi, tanggal 23 Juli kemarin," kata Agus.

Menurut Agus, total pasukan yang diterjunkan untuk mengantisipasi dan menangani kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi tersebut berjumlah 5.679 personel.

Baca juga: Ada 18.895 Sebaran Titik Panas, BMKG Minta Masyarakat Waspada Karhutla

Targetnya masing-masing dari keenam provinsi itu akan mendapat bantuan 1.512 personel, terdiri dari seribu personel TNI, 200 dari Polri, dan sisanya dari BPBD serta masyarakat.

Pasukan tersebut akan disebar ke desa-desa dan menginap di rumah penduduk.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka bertugas berpatroli. Jika menemukan titik api, mereka akan ikut memadamkan. Agus menambahkan, pasukan juga bertugas mensosialisasikan bahaya kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, pemerintah juga mengerahkan helikopter penyiram air. Khusus di Riau disediakan 17 helikopter penyiram air karena titik api sudah meluas.

Sementara, Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Supari mengatakan kekeringan terjadi di Jawa, sebagian besar Sumatera, dan Kalimantan.

Dia menambahkan sepanjang pertengahan bulan ini di Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, kondisi curah hujan di bawah normal.

Secara umum, curah hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia sepanjang Agustus di bawah normal.

Selama bulan ini, 88 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Musim kemarau tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, hampir seluruh Nusa Tenggara, Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, dan sebagian Papua.

Hingga kemarin, Nusa Tenggara Timur adalah daerah yang paling lama tidak diguyur hujan, yakni selama 137 hari.

"Wilayah-wilayah yang memiliki kategori sangat mudah terbakar mulai dari Aceh, Riau, Jambi, Sumatera (Selatan), Lampung, Bangka belitung, Kalimantan, Jawa, hingga NTT. Selama bulan Juli curah hujan umumnya di bawah normal, utamanya terjadi di sebagian besar wilayah selatan, mulai dari Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali," ujar Supari.

Baca juga: BMKG: Musim Kemarau Tahun Ini Lebih Lama, Harap Waspada Kekeringan

Agus Wibowo mengatakan kekeringan sudah terjadi di Jawa Barat, Banten, Jawa tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara barat, Nusa Tenggara Timur.

Sampai saat ini, lanjutnya, kekeringan terjadi di 2.347 desa dari 95 kabupaten di tujuh provinsi.

Masing-masing Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyalurkan air bersih, khususnya air minum, ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan tersebut. Jumlah air bersih sudah dipasok sebanyak 28 juta liter.

Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan setiap musim kemarau. Hal tersebut memicu kiriman asap ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X