Kompas.com - 06/08/2019, 09:04 WIB
Pemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

Partikel debu sangat kecil itu berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau sering disebut PM2,5.

Sebagai gambaran, ukuran PM2,5 sebanding dengan sekitar 1/30 dari diameter rambut manusia yang pada umumnya berukuran 50-70 mikrometer. Sedangkan PM10 sebanding dengan 1/7 dari diameter rambut.

Nah, jika partikel debu terhirup dan masuk ke tubuh manusia, mereka akan mencari jalan untuk menempel sel-sel dalam tubuh.

Pernapasan manusia itu juga berakhir di jantung, aliran yang terbawa dari hidung melalui sel-sel darah mengalir dan mengendap di jantung. Sama halnya seperti rokok yang lama mengendap dan akhirnya akan membahayakan organ jantung dan paru-paru.

Bahkan pada anak-anak, partikel-partikel tersebut lebih mudah lagi menempel dan anak-anak juga lebih rentan terkena penyakit karena daya tahan tubuh mereka belum kuat. Dampak jangka panjang pada anak-anak yakni mudah terserang berbagai penyakit kanker.

Cegah risiko jangka panjang

Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurasi terkena resiko dari dampak-dampak tersebut.

1. Berolahraga

Salah satunya adalah dengan berolahraga untuk meningkatkan frekuensi napas.

Ketika frekuensi napas meningkat, udara yang masuk juga meningkat.

Agus mengingatkan, jangan sekali-kali berolahraga di luar ruangan jika indeks udara sedang tidak sehat.

"Berolahragalah di tempat yang banyak pepohonan. Memang tidak bagus jika olahraga pakai masker, karena hal itu menyulitkan untuk mengambil napas," ungkap Agus.

2. Menanam lidah buaya dan lidah mertua

Menanam pepohonan yang mempunyai anti oksidan seperti lidah buaya dan lidah mertua bisa menjadi pilihan.

Hal ini bisa Anda lakukan di rumah Anda bersama keluarga, untuk menghalangi racun-racun yang masuk dari udara di luar ruangan.

Baca juga: Jakarta Darurat Polusi Udara, Ahli Ungkap Kapan Harus Pakai Masker

3. Membersihkan rumah

Membersihkan rumah dengan sedetail mungkin. Jangan anggap rumah yang nampak bersih itu tidak ada kuman atau debunya.

4. Setelah berada di luar ruangan, segera ganti baju

Segera ganti baju yang Anda gunakan seharian di luar rumah, ketika sudah pulang ke rumah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.