Serba Serbi Hewan: Ada Siput yang Bisa Berpendar Seperti Kunang-kunang

Kompas.com - 01/08/2019, 12:50 WIB
Quantula striata, siput yang bisa berpendar. Hewan ini pertama kali ditemukan oleh John Edward Gray pada 1834 di Singapura. Quantula striata, siput yang bisa berpendar. Hewan ini pertama kali ditemukan oleh John Edward Gray pada 1834 di Singapura.

KOMPAS.com - Di dunia ini, tak cuma kunang-kunang yang bisa berpendar atau bersinar saat gelap. Siput juga bisa melakukannya.

Hal ini diungkap oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nova Mujiono dalam artikel yang terbit di National Geographic edisi (21/12/2011).

Nova menerangkan, kemampuan makhluk hidup untuk berpendar dinamakan bioluminesensi. Ini adalah fenomena emisi cahaya yang dihasilkan makhluk hidup karena adanya reaksi kimia.

2.500 tahun lalu, Aristoteles juga mencatat fenomena bioluminesensi pada ikan dan tinta sotong yang menghasilkan cahaya.

Baca juga: Serba Serbi Hewan: Kenapa Simpanse Suka Melempar Kotoran ke Manusia?

Seorang ahli serangga Jepang bernama Dr Yata Haneda disebut Nova pernah meneliti fenomena bioluminesensi pada siput Quantula striata.

Siput Q. striata merupakan siput tanah tropis berukuran sedang yang banyak dijumpai di Singapura, Malaysia, Kamboja, Filipina, Fiji, dan beberapa pulau di Rhio Archipelago.

Siput ini memiliki cangkang cukup besar dan tebal, dengan tinggi 15-18 milimeter dan lebar 21-25 milimeter.

Orang yang pertama kali menemukan siput Q. striata adalah John Edward Gray pada 1834 di Singapura.

Dalam penelitian Haneda, terungkap bahwa siput itu bisa berpendar. Cahaya yang dikeluarkan berwarna hijau kekuningan dan bisa memedar selama setengah detik.

Sementara panjang spektrum gelombang cahaya mencapai 515 nano meter.

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X