Dibilang Pemprov DKI Atasi Polusi, Faktanya Lidah Mertua Baru Ampuh Basmi Bau Amis

Kompas.com - 23/07/2019, 11:00 WIB
Rancangan penelitian NASA tentang lidah mertua dan polusi ruangan. NASARancangan penelitian NASA tentang lidah mertua dan polusi ruangan.

Mungkin ini penelitian yang paling banyak dibicarakan terkait lidah mertua. NASA memang meneliti lidah mertua sejak 1970-an sebab kala itu Amerika Serikat mengalami krisis minyak yang membuat listrik untuk pendingin ruangan jadi mahal.

Baca juga: Kajian NASA Buktikan Proyek Lidah Mertua Pemprov DKI Salah Kaprah

Formaldehida dan trikloro-etilen ditemukan di ruangan karena benda-benda yang kita gunakan diproses dengan senyawa itu, misalnya tas, kertas, hingga cat dinding. Tanaman yang diteliti NASA tidak cuma lidah mertua, tetapi juga bambu dan sri rejeki (Aglaonema modestum).

Dalam riset itu, lidah mertua terbukti menyerap senyawa racun, tetapi caranya tak semudah ditaruh di ruangan. Lidah mertua ditaruh dalam pot berisi karbon aktif yang dilengkapi lampu untuk induksi stomata dan saluran untuk air buangan.

Cara kerja lidah mertua juga tak seperti yang dibayangkan. Karbon aktif menyerap bahan kimia berbahaya. Mikroba yang bersimbiosis dengan akar lidah mertua kemudian menyerap senyawa itu dan menggunakannya sebagai bahan dasar fotosintesis.

China juga punya gagasan seperti Anies

Apakah gagasan Anies sepenuhnya salah? Tidak juga. Hanya belum terbukti secara ilmiah. Sebab, polutan di luar ruangan bukan hanya formaldehida dan trikloro-etilen. Ada karbon monoksida, karbon dioksida, timbal, hingga partikel debu.

Baca juga: [KLARIFIKASI] Penjelasan LIPI soal Viral Tanaman Dieffenbachia Beracun

Para peneliti di China sebenarnya juga punya gagasan seperti Anies, menggunakan tumbuhan untuk mengurangi polutan atau senyawa racun. Dalam biologi, pendekatan ini disebut phylloremediation. Salah satu yang umum dan telah terbukti adalah penggunaan eceng gondok untuk menyerap logam berat.

Tapi, China pun sampai sekarang juga baru taraf gagasan. Mereka mengidentifikasi sejumlah tanaman yang potensial. Pada saat yang sama, China juga mengakui bahwa langkah pertama adalah mengurangi sumber polutan itu sendiri, dari kendaraan pribadi hingga asap pabrik dan pembangkit listrik.

Bondan Ariyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, juga mengamini bahwa langkah utama yang harus dilakukan Jakarta adalah mengurangi sumber polutan. "Beri tilang atau tindakan tegas pada kendaraan umum dan pribadi yang masih ngebul knalpotnya," ujarnya Senin (22/7/2019).

Lidah mertua, atau tanaman apa pun, bisa diteliti untuk membantu mengurangi polusi. Tanaman sirih gading (Epipremnum aureum) lewat riset baru-baru ini terbukti bisa membantu mengurangi partikel polutan PM 2.5. Tapi tetap, tanaman apa pun tidak bisa jadi satu-satunya cara menghilangkan polutan.

Baca juga: Ahli Bikin Lem Jaring Spiderman di Dunia Nyata untuk Lindungi Tanaman

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Fenomena
NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.