Menurut Pakar Jender, Video Ikan Asin Ungkap Watak Pria Misoginis

Kompas.com - 12/07/2019, 08:34 WIB
Galih Ginanjar saat menjalani pemeriksaan di Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2019).KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG Galih Ginanjar saat menjalani pemeriksaan di Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2019).

KOMPAS.com —  Galih Ginanjar ditangkap polisi karena kasus video ikan asin. Dalam video tersebut, Galih yang diwawancarai oleh Rey Utami membandingkan hubungan seksual dengan Fairuz A Rafiq yang merupakan mantan istrinya dan Barbie Kumalasari yang merupakan istrinya sekarang.

Seusai melihat video tersebut, pakar studi jender dan budaya dari Universitas Sebelas Maret, Sri Kusumo Habsari, PhD, menjelaskan bahwa dia menangkap adanya unsur misogini di dalam kata-kata Galih.

Bagi pria misoginis, perempuan adalah obyek yang pasif dan obyek seksualitas pria.

“Misogini bisa merupakan kebencian laki-laki terhadap perempuan, tetapi berada pada alam bawah sadar. Bagi pria yang misoginis, perempuan hanya obyek belaka, diberi uang, dicukupi, tapi hanya sebagai obyek seks,” ujar Habsari kepada Kompas.com via pesan singkat pada Kamis (11/7/2019).

Baca juga: Kasus Video Ikan Asin Galih Ginanjar, Pria Memang Cenderung Pamer Pasangan

Dia melanjutkan, pria misoginis biasanya tidak malu bicara tentang hubungan seks mereka dengan mengemukakan hal-hal tentang perempuan yang cenderung merendahkan karena perempuan hanya obyek dia. Meskipun dia memuji pasangannya sekarang, unsur bahwa perempuan adalah obyek bagi dia tetap terasa kuat.

Habsari lantas menjelaskan bahwa sifat misoginis sebetulnya bertentangan dengan budaya asli Indonesia. Negara kita justru memiliki salah satu fluiditas peran jender tebaik di dunia, dan seperti negara-negara Asia Tenggara lainnya, nilai perempuan di Indonesia termasuk tinggi.

“Video tersebut justru tidak lagi mencerminkan nilai budaya Indonesia. Video tersebut malah mengingatkan saya sitkom Family Guy (asal Amerika Serikat) yang kental dengan unsur misogini,” kata Habsari.

Secara norma dan nilai budaya, Habsari juga menemukan adanya pergeseran di mana hal-hal yang bersifat privat dibawa ke ranah publik dan tidak lagi malu untuk dibicarakan.

“Malu adalah budaya timur dan sudah hilang pada proses wawancara baik dari host (Rey Utami) maupun bintang tamu (Galih Ginanjar),” ucapnya.

Baca juga: Belajar dari Video Ikan Asin Galih Ginanjar, Sebenarnya Bolehkah Review Pasangan Seksual di Medsos?

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X