Kompas.com - 08/07/2019, 17:35 WIB

Proses perubahan gula menjadi energi oleh tubuh lagi-lagi diawali dengan memecahkan monosakarida melalui proses glikolisis, di mana senyawa piruvat akan terbentuk dan diubah menjadi senyawa bernama asetil-KoA melalui serangkaian reaksi enzimatik.

Asetil-KoA inilah yang kemudian digunakan untuk memulai siklus asam sitrat atau dikenal juga sebagai Krebs’ cycle.

Dijelaskan oleh Antonio Blanco, Profesor Emeritus dari Universitas Nasional Cordoba - Argentina dalam buku Medical Biochemistry, dibutuhkan dua kali siklus asam sitrat untuk memecah satu unit glukosa.

Baca juga: Sindrom Nasi Goreng, Infeksi Bakteri yang Paling Sering Serang Manusia

Ini berarti untuk satu unit glukosa yang telah bereaksi secara sempurna, akan dihasilkan 30 hingga 38 unit Adenosin trifosfat (ATP), satuan molekul energi dalam tubuh kita.

ATP terlibat dalam berbagai macam reaksi kimia sel agar tubuh dapat melakukan fungsinya, seperti mengontraksikan otot agar kita dapat bergerak dan jantung dapat tetap berdenyut untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Layaknya mesin, ketika tubuh memerlukan banyak energi untuk berfungsi, kebutuhan akan bahan bakar akan meningkat. Gula akan diserap oleh tubuh ke dalam darah, untuk kemudian didistribusikan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan.

Contohnya pada saat kita berolahraga, otot kita bekerja lebih keras daripada biasanya sehingga reaksi glukolisis akan terjadi dengan sangat cepat. Apabila kandungan gula dalam tubuh menipis, cadangan energi yang disimpan dalam bentuk lemak akan segera direaksikan untuk memenuhi kebutuhan energi.

Sebaliknya ketika kita sedang melakukan kegiatan yang kurang aktif seperti menonton TV, duduk di meja kerja selama satu hari penuh, tubuh kita tidak terlalu membutuhkan banyak energi. Reaksi glukolisis yang telah merubah makanan kita menjadi energi dalam kondisi ini tidak lagi di perlukan, dan energi yang berlebih akan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk lemak.

Baca juga: Berpikir Keras Dapat Membakar Kalori, Bisakah Bikin Langsing?

Bertentangan dengan mitos yang beredar di masyarakat, lemak bukanlah yang berperan paling besar dalam menentukan berat badan seseorang.

Lemak memiliki massa jenis yang paling rendah dengan berat 0,9 g per mililiternya dibandingkan dengan komponen pembentuk tubuh lainnya seperti air (1g/mL), tulang (1,9g/mL) dan otot (1,06g/mL) sebagaimana dikutip dalam beberapa jurnal ilmiah.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.