Terbesar dalam Sejarah, Monster "Loch Ness” Ditemukan di Antartika

Kompas.com - 16/06/2019, 19:08 WIB
Para peneliti menggali fosil monster Loch Ness di Pulau Seymour, AntartikaJ.P.OGorman-IAA Para peneliti menggali fosil monster Loch Ness di Pulau Seymour, Antartika

KOMPAS.com – Para peneliti baru saja menemukan sebuah fosil dinosaurus yang menyerupai monster Loch Ness di Antartika. Dinosaurus itu berjenis elasmosauridae yang memiliki empat sirip dan berleher panjang.

Menariknya, ukuran spesimen ini sangat raksasa hingga memecahkan rekor dan menjadi elasmosauridae terbesar yang pernah ditemukan.

“Tidak cuma panjang, (dinosaurus) ini juga kekar,” ujar Jose? O'Gorman, pemimpin penelitian dan paleontolog vertebrata dari La Plata Museum dan National University of La Plata, Argentina.

Ketika diukur, panjang dinosaurus itu dari hidung ke ujung ekor mencapai 11 meter atau setara dengan tinggi tiang telepon. Bobotnya pun, jika hidup, bisa mencapai 15 ton sehingga ia juga menjadi elasmosauridae terbesar yang pernah ditemukan.

Baca juga: Loch Ness Terdampar di Pantai Georgia, Hewan Apa Sebenarnya?

Saking besarnya, fosil dinosaurus ini tidak bisa langsung dibawa dari lokasi asalnya di Pulau Seymour Antartika ketika pertama kali ditemukan pada 1989. Para peneliti harus bolak balik hingga tiga kali, yakni pada 2005, 2012 dan 2017, untuk mengambilnya. Secara total, para peneliti mengangkut 800 kilogram fosil yang tertanam di dalam batu.

Sejauh ini, para peneliti menduga bahwa ia adalah spesies baru yang termasuk dalam genus Aristonectes. Hal ini karena fosil tersebut tidak memiliki cukup banyak kesamaan dengan spesimen lain yang telah diidentifikasikan.

Sebagai contoh, meskipun dinosaurus ini sudah dewasa (diketahui dari sebagian vertebratanya yang menyatu) dan berukuran besar, lehernya tidak sepanjang elasmosauridae lainnya karena vertebrata pada lehernya lebih sedikit.

Lalu, dinosaurus ini kemungkinan besar hidup 30.000 tahun sebelum  kepunahan Kapur-Paleosen yang memusnahkan seluruh dinosaurus dari Bumi pada 66 juta tahun lalu. Sebab, fosil ini ditemukan hanya 2,3 meter di bawah batas K/Pg, garis gelologi yang menunjukkan kepunahan tersebut.

Studi yang dibiayai oleh National Antarctic Directorate dan Argentine Antarctic Institute ini akan dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research edisi Oktober.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X