Kompas.com - 02/06/2019, 18:02 WIB

KOMPAS.com - Dialek Banyumasan atau sering disebut bahasa ngapak oleh masyarakat di luar Banyumas memiliki logat yang agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya.

Saat tinggal di tanah rantau, mungkin kita juga memiliki kenalan dengan logat khas ini. Untuk diketahui, bahasa ngapak ini dipergunakan oleh orang yang tinggal di wilayah barat Jawa Tengah atau Banyumasan, salah satunya Cilacap.

Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat dan di bagian selatannya berbatasan dengan Samudera Hindia.

Karena menjadi batas langsung antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, Cilacap memiliki percampuran budaya Jawa Banyumasan dengan budaya Sunda (Priangan Timur).

Lalu dari mana asal nama Cilacap?

Baca juga: Mudik, Mari Merunut Kembali Sejarah Asal Nama Lamongan

Nama Cilacap bukan berasal dari penggabungan kata "Ci" dan "Lacap", melainkan ada hubungannya dengan mata bajak.

Menurut Sumber Babad, di masa lalu Raden Bei Tjakrawedana (anak Tumenggung Tjakrawedana I, Bupati Kasepuhan Banyumas) diutus membuka hutan untuk dijadikan pemukiman ke daerah selatan.

Rombongan Raden Bei ini kemudian berhenti di ujung lekukan pantai teluk yang bentuknya mirip mata bajak, atau dalam bahasa Jawa disebut wluku, yang disebut cacab atau tlacap.

Mr. W. de Wolff van Westerrode, Asisten Residen Purwokerto (1896-1900) membuat resensi buku karangan Veth berjudul Java, Geographisch, Ethnologisch, Historich, 3 Jilid, terbit tahun 1875-1882 dalam majalah Ilmu Bumi di Negeri Belanda, mencatat bahwa penulisan Cilacap seringkali disalahtafsirkan sebagai kata yang berasal dari bahasa Sunda.

Sebenarnya perubahan ucapan (metathesis) kata Tlacap berubah menjadi Cilacap yang artinya sudut atau titik lancip (Scherpe hoek of punt).

Perubahan pengucapan itu muncul karena ada perbedaan persepsi orang Belanda. Cilacap bukan berasal dari kata Ci dan lacap.

Di Tanah Kerajaan, kata Tlacap digunakan untuk titik–titik yang dikenal pada patrun beberapa stasi payung dan "kepala" kain batik dan sarung.

Baca juga: Ramai Hashtag #bertemudiklaten, Bagaimana Sih Asal Usul Nama Klaten?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.