Kompas.com - 01/06/2019, 11:06 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.

KOMPAS.com - Satu spesies jamur yang sengaja dimodifikasi untuk menghasilkan racun laba-laba dapat membunuh nyamuk penyebar malaria dalam jumlah banyak.

Hasil kajian yang berlangsung di Burkina Faso itu menunjukkan populasi nyamuk rontok 99 persen selama 45 hari.

Para peneliti di balik kajian tersebut mengatakan bahwa tujuan mereka bukan untuk membuat nyamuk Anopheles punah, melainkan menghentikan penyebaran malaria.

Setiap tahun ada sekitar 219 juta kasus malaria di seluruh dunia. Dari jumlah itu, lebih dari 400.000 orang meninggal dunia.

Baca juga: Terungkap, Cara Nyamuk Deteksi Kulit Manusia untuk Digigit

Hasil kajian ini berawal ketika para ilmuwan dari Universitas Maryland di Amerika Serikat dan institut riset IRSS di Burkina Faso menemukan sebuah jamur bernama Metarhizium pingshaense yang dapat membunuh nyamuk Anopheles secara alamiah.

Mereka lalu berupaya mengembangkan jamur tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jamur-jamur ini sangat mudah dibentuk dan dapat dengan gampang dimodifikasi secara genetika," kata Prof Raymond St Leger, dari Universitas Maryland, kepada BBC.

Pada saat bersamaan, para peneliti mengkaji racun yang dapat ditemukan pada bisa spesies laba-laba di Australia.

Racun itu kemudian ditambahkan kepada genetika jamur sehingga jamur itu mampu menghasilkan racun begitu berada di dalam nyamuk.

"Seekor laba-laba menggunakan taringnya untuk menembus kulit serangga dan menginjeksi racun. Kami menggantikan taring laba-laba dengan Metarhizium," jelas Prof St Leger merujuk jamur khusus tersebut.

Hasil tes di laboratorium menunjukkan jamur yang dimodifikasi genetikanya dapat membunuh nyamuk lebih cepat.

Langkah selanjutnya adalah menguji jamur itu semirip mungkin dengan kondisi di dunia nyata.

Maka dibuatlah desa tiruan seluas 603 meter persegi di Burkina Faso, lengkap dengan tanaman, gubuk-gubuk, sumber air, dan makanan untuk para nyamuk.

Desa tiruan itu lantas dilingkupi oleh jaring nyamuk setebal dua lapis untuk mencegah nyamuk lolos.

Spora-spora jamur lalu dicampur dengan minyak wijen dan dibalurkan ke kain-kain katun berwarna hitam.

Baca juga: Ahli Temukan Cara Bikin Nyamuk Malas Gigit Manusia

Ilustrasi. Ilustrasi.

Nyamuk-nyamuk yang mendarat di kain itu langsung terpapar dengan jamur.

Awalnya, para peneliti bereksperimen dengan 1.500 ekor nyamuk.

Hasilnya, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal Science, jumlah nyamuk meningkat pesat ketika dibiarkan tanpa intervensi.

Namun, tatkala jamur penghasil racun laba-laba dimasukkan, hanya ada 13 nyamuk setelah 45 hari.

"Jamur yang genetikanya dimodifikasi dengan cepat merontokkan populasi nyamuk dalam dua generasi," kata Dr Brain Lovett, dari Universitas Maryland.

Beberapa tes juga memperlihatkan jamur itu hanya berdampak pada nyamuk Anopheles, tidak mempengaruhi serangga lain, seperti lebah.

"Teknologi kami tidak bertujuan agar nyamuk-nyamuk punah, tujuan kami adalah menghancurkan penyebaran malaria di sebuah area," sambung Lovett.

Peranti baru diperlukan untuk menangani malaria mengingat nyamuk-nyamuk semakin kebal terhadap insektisida.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kasus-kasus malaria kini meningkat di 10 negara paling terpapar di Afrika.

Menanggapi temuan ini, Prof Michael Bonsall dari Universitas Oxford, berkata, "Bagus. Ini adalah kajian yang super menarik."

"Prospek mengendalikan nyamuk menggunakan jamur yang telah dimodifikasi ini tergolong tinggi," sambungnya

"Regulasi keamanan biologi yang proporsional diperlukan untuk menjamin kajian ini dan pendekatan lain untuk pengendalian vector (nyamuk) menggunakan metode genetik tidak hilang akibat aturan yang terlalu ketat," kata Prof Bonsall lagi.

Baca juga: Ada di Kakinya, Alasan Nyamuk Ogah Hinggap di Kulit Berlosion Anda

Dr Tony Nolan, dari Liverpool School of Tropical Medicine, menambahkan: "Hasil-hasil kajian ini sangat membuat semangat.

"Kita memerlukan alat baru untuk memperkuat metode pengendalian yang sudah ada, yang kini terdampak oleh perkembangan kekebalan insektisida."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.