Wahana Antariksa China Temukan Mineral Penting di Sisi Jauh Bulan

Kompas.com - 21/05/2019, 16:36 WIB
Panorama sisi jauh bulan yang diambil oleh wahana antariksa China Panorama sisi jauh bulan yang diambil oleh wahana antariksa China


KOMPAS.com - Sisi jauh bulan atau sisi gelap bulan telah lama menarik perhatian para ilmuwan karena lokasinya yang tidak pernah dijamah manusia.

Setelah China menjadi negara pertama yang mendarat di sisi jauh bulan, perlahan namun pasti misteri di sana terungkap. Terbaru, robot penjelajah China Yutu-2 yang dibawa pesawat ruang angkasa Chang'e-4 mendeteksi adanya tanah kaya mineral di area tersebut.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature, Rabu (15/5/2019), Yutu-2 menemukan material mantel bulan di kawah besar Aitken Kutub Selatan sisi jauh bulan. Hal ini dipercaya akan membantu ahli memahami bagaimana Bumi dan Bulan terbentuk.

Perlu diketahui, pendaratan sebelumnya baik yang dilakukan Apollo AS maupun misi Luna Soviet di tahun 1960-an dan 1970-an tidak berhasil membawa sampel batuan yang mengandung bahan mantel.

Baca juga: Begini Panorama Sisi Jauh Bulan yang Diambil Wahana Antariksa China

Misteri mantel bulan

Merujuk pemberitaan Live Science, Rabu (15/5/2019), tanah yang diuji dengan spektrometer inframerah di atas mobil Yutu-2 menunjukkan pola pantulan cahaya yang menunjukkan kadar kalsium tinggi piroksen dan oliven, dua mineral yang banyak ditemukan di batuan beku dan batuan metamorf (batuan malihan). Ahli menduga, mineral itu memakan waktu cukup lama sampai membentuk mantel bulan.

Dalam laporan yang ditulis Chunlai Li dari National Astronomical Observatories, Chinese Academy of Sciences di jurnal Nature, olivin merupakan mineral berlimpah di mantel Bumi dan sebelumnya sulit ditemukan di permukaan bulan.

"Hasil temuan Li dan koleganya sangat mengejutkan dan memiliki implikasi cukup besar untuk mengkarakterisasi komposisi mantel bulan," ujar Patrick Pinet dari Lembaga Penelitian di Astrofisika dan Planetologi Perancis, yang tidak terlibat dalam studi.

Dari hasil studi Li, ahli menduga bulan lahir sebagai dampak dari lemparan materi dalam jumlah besar dari Bumi purba.

Pada awal pembentukan bulan, seluruh permukaan satelit merupakan samudera berisi magma cair. Dari lautan itu, mineral dipisahkan oleh kerapatan dengan plagioklas ringan naik ke atas dan mineral berat yang kaya zat besi dan magnesium meresap ke dalam mantel bulan.

Baca juga: Ciptakan Sejarah, Wahana Antariksa China Mendarat di Sisi Jauh Bulan

Pinet berkata, memahami proses pembentukan bulan adalah sesuatu yang penting, terlebih karena bulan memiliki struktur tiga lapis mirip Bumi, tapi tanpa lempeng tektonik.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X