Atasi Penyakit Otak, Ilmuwan Gunakan Ikan Parasit

Kompas.com - 16/05/2019, 15:05 WIB
Mulut ikan lamprey, ikan primitif tanpa rahang yang bersifat parasitikDrow male Mulut ikan lamprey, ikan primitif tanpa rahang yang bersifat parasitik

KOMPAS.com – Tantangan terbesar dalam penanganan kanker dan penyakit yang menyerang otak lainnya adalah memastikan bahwa obat dapat mencapai sel target.

Siapa sangka, ternyata solusi terhadap tantangan tersebut justru datang dari makhluk yang tidak diduga, ikan lamprey. Ikan lamprey adalah ikan primitif tanpa rahang yang juga bersifat parasit.

Tim peneliti dari University of Wisconsin-Madison dan University of Texas menggunakan molekul yang berada dalam ikan lamprey ini sebagai alat yang dapat membantu mengarahkan obat pada sel tujuannya.

Tidak seperti obat pada umumnya, yang menyasar fitur spesifik pada sel di jaringan dan organ tertentu, molekul lamprey ini justru mengarah pada matriks ekstraseluler, yaitu struktur jejaring yang terdiri dari protein dan gula yang melindungi dan menyelubungi seluruh sel di otak.

Baca juga: Terancam Punah, Burung Beo Kakapo Jalani Operasi Otak Pertama di Dunia

Teknologi ini memanfaatkan kondisi disrupsi pembatas darah-otak (blood-brain barrier) oleh serangan penyakit.

Pembatas darah-otak adalah struktur yang membatasi pembuluh darah dengan sisem saraf pusat dan berperan sebagai pelindung otak dari ancaman potensial seperti racun atau patogen yang mengalir lewat darah.

Obat secara normal tidak dapat mencapai otak jika diinjeksikan lewat pembuluh darah, namun dalam kondisi seperti kanker otak, stroke, trauma, dan multiple sclerosis, pembatas darah-otak mengalami kebocoran.

Hal ini memungkinkan molekul dari ikan lamprey agar dapat mengakses matriks dan mengantarkan obat secara presisi ke sel otak.

Para peneliti berharap bahwa molekul ini dapat dikombinasikan dengan beragam jenis obat dan terapi lain, sehingga dapat digunakan untuk menangani berbagai penyakit otak selain tumor, seperti Alzheimer, multiple sclerosis, dan trauma otak.

“Molekul ini nampak tidak membedakan penyakit. Kami percaya ini dapat diterapkan sebagai platform teknologi lintas kondisi,” ujar Eric Shusta, profesor teknik kimia dan biologi di University of Wisconsin-Madison, dilansir dari EurekAlert, Kamis (16/5/2019).

Strategi ini juga memungkinkan untuk dikombinasikan dengan teknik yang dapat membuka pembatas darah-otak secara sementara, serta akumulasi dosis obat dalam jumlah besar untuk kemudian memasuki jaringan otak.

“Seperti spons yang menyerap air, molekul lamprey ini secara potensial dapat mengumpulkan banyak obat pada matriks sekitar sel jika dibandingkan dengan pengantaran spesifik ke sel secara langsung,” papar John Kuo, neurosaintis yang terlibat dalam studi ini.

Penelitian selanjutnya difokuskan untuk menghubungkan molekul lamprey ini dengan beberapa obat anti kanker, seperti agen imunoterapi yang mengaktivasi sistem imun pasien untuk menghancurkan tumor.

Baca juga: Kisah Pria China yang Implan Otak untuk Hentikan Kecanduan Narkobanya




Close Ads X