Bencana Kemanusian Pemilu 2019, Pembelajaran untuk Mitigasi Kesehatan

Kompas.com - 10/05/2019, 13:00 WIB
Warga mengusung jenazah Tommy Heru Siswantoro ke tempat pemakaman umum Karang Gayam Teratai Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019). Tommy Heru merupakan anggota Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 19 Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, meninggal diduga karena kelelahan setelah menjalankan tugas di TPS.ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONO Warga mengusung jenazah Tommy Heru Siswantoro ke tempat pemakaman umum Karang Gayam Teratai Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019). Tommy Heru merupakan anggota Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 19 Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, meninggal diduga karena kelelahan setelah menjalankan tugas di TPS.

KOMPAS.com - Pemilu 2019 dilaksanakan 17 April lalu, namun hingga kini penghitungan suara belum selesai dilakukan dan jumlah korban yang sakit hingga meninggal terus bertambah. Hingga 6 Mei 2019, jumlah korban meninggal 554 orang dan 3.788 orang sakit.

Berdasar data tersebut, tak heran bila Medical Emergency Rescue Comittee (MER-C) menetapkan jatuhnya korban pada Pemilu 2019 sebagai Bencana Kemanusian.

Untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak, MER-C membentuk tim mitigasi kesehatan bencana Pemilu 2019 yang terdiri dari dokter spesialis dari berbagai keahlian, perawat, dan psikolog.

Melalui siaran pers yang diterima Kompas.com Jumat (10/5/2019), segenap tim MER-C akan mencegah jatuhnya lebih banyak korban dengan melakukan pendampingan korban yang memerlukan penanganan atau perawatan intensif. Selain itu, MER-C juga menegaskan akan mencari penyebab bencana kemanusiaan.

Baca juga: 119 Petugas KPPS Meninggal, Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Kelelahan

Persoalan pentingnya mitigasi bencana sebenarnya juga sudah disinggung Kompas.com dalam artikel berjudul 119 Petugas KPPS Meninggal, Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Kelelahan.

Dekan FKUI Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB FINASIM FACP menganggap kejadian bencana kemanusiaan pada pemilu 2019 adalah bukti bahwa kita tidak belajar dari pemilu sebelumnya.

"Kejadian ini adalah yang terburuk dalam sejarah pemilu Republik Indonesia karena ratusan orang meninggal dan ribuan orang sakit," kata Ari kepada Kompas.com, Rabu (24/4/2019) melalui sambungan telepon.

Ari menjelaskan, kemungkinan terbesar banyak orang meninggal pada Pemilu 2019 adalah kelelahan. Padahal, manusia memiliki batasan dalam bekerja dan memerlukan istirahat.

24 jam dalam sehari yang kita miliki harus dibagi menjadi tiga bagian agar kesehatan terjaga, yakni delapan jam untuk kerja keras, 8 jam untuk kerja ringan, dan 8 jam untuk istirahat atau tidur.

"Ini bukan konsep omong kosong, tapi sudah diuji secara genetik," tegas Ari.

Ketika pakem itu tidak dijalankan, misalnya terus bekerja selama lebih dari 12 jam maka siklus biologi terganggu dan ada dampak kesehatan yang menghadang, terlebih bila memiliki riwayat penyakit kronis.

Ari mencontohkan, orang-orang yang memiliki diabetes bila kelelahan gula darahnya menjadi tidak terkontrol, orang dengan hipertensi bisa kena stroke, dan orang yang sudah memiliki sumbatan pada pembuluh jantung bisa mengalami serangan jantung dan meninggal.

"Kemudian pada orang-orang yang tidak memiliki penyakit kronis, kelelahan, kurang tidur, dan makan asal-asalan bisa menyebabkan daya tahan tubuh menurun," jelas Ari.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X