119 Petugas KPPS Meninggal, Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Kelelahan

Kompas.com - 24/04/2019, 13:15 WIB
JENAZAH Hamim Hardiansyah (47), Ketua KPPS 31, Pasarean, Kelurahan Pamoyanan, Kab. Cianjur, Jawa Barat saat dibawa ke rumah duka dari RSUD Sayang, Cianjur, Selasa (23/04/2019). Hamim meninggal dunia karena kelelahan usai bertugas di TPS.KOMPAS.com/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN JENAZAH Hamim Hardiansyah (47), Ketua KPPS 31, Pasarean, Kelurahan Pamoyanan, Kab. Cianjur, Jawa Barat saat dibawa ke rumah duka dari RSUD Sayang, Cianjur, Selasa (23/04/2019). Hamim meninggal dunia karena kelelahan usai bertugas di TPS.


KOMPAS.com - Berdasar data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Selasa (23/4/2019) pukul 16.30 WIB, jumlah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS) yang meninggal bertambah menjadi 119 orang dan 548 orang dilaporkan sakit.

Jumlah tersebut tersebar di beberapa kabupaten/kota di 25 provinsi. Sementara itu, penyebab meninggal maupun sakit dikarenakan kelelahan dan kecelakaan.

Dekan FKUI Prof dr Ari Fahrial Syam SpPd-KGEH MMB FINASIM FACP menganggap kejadian ini adalah bukti bahwa kita tidak belajar dari pemilu sebelumnya.

Pemilu 2009 juga meninggalkan kisah pilu. Saat itu media memberitakan ada petugas yang mengalami muntah darah, stroke, serangan jantung, sampai beberapa meninggal.

Baca juga: Puluhan Petugas KPPS Meninggal, Beban Kerja Berlebih Mengancam Nyawa

"Kejadian ini adalah yang terburuk dalam sejarah pemilu Republik Indonesia karena ratusan orang meninggal dan lebih dari 500 (orang) sakit," kata Ari kepada Kompas.com, Rabu (24/4/2019) melalui sambungan telepon.

Menurut Ari, hal ini menunjukkan petugas KPU dan siapa pun yang terlibat di dalamnya tidak memperhitungkan bahwa manusia ada batasnya dalam bekerja. Manusia bukan robot yang sanggup 24 jam aktif non-stop.

"Dalam siklus 24 jam manusia, pakar membagi menjadi tiga. 8 jam untuk kerja keras, 8 jam untuk kerja ringan, dan 8 jam untuk istirahat atau tidur. Ini bukan konsep omong kosong tapi sudah diuji secara genetik," jelas Ari.

Saat pakem tersebut tidak dijalankan, misalnya kerja keras lebih dari 12 jam, maka ada dampak kesehatan bagi orang tersebut.

"Nah ini yang terjadi pada pemilu kemarin. Mereka (petugas KPPS) sudah kurang tidur karena mempersiapkan menjelang hari H, setelah itu mereka harus bekerja lagi hampir 24 jam mungkin istirahat hanya tiga sampai empat jam. Ini artinya mereka bekerja sudah melampaui batas," ujarnya.

"Ketika ini (pengaturan siklus 24 jam) tidak dilakukan, siklus biologis kita akan terganggu".

Jam kerja terlalu tinggi, kurang istirahat, dan kurang asupan makanan bergizi akan sangat berdampak pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit kronis.

Ari mencontohkan, orang-orang yang memiliki diabetes bila kelelahan gula darahnya menjadi tidak terkontrol, orang dengan hipertensi bisa kena stroke, dan orang yang sudah memiliki sumbatan pada pembuluh jantung bisa mengalami serangan jantung dan meninggal.

"Kemudian pada orang-orang yang tidak memiliki penyakit kronis, kelelahan, kurang tidur, dan makan asal-asalan bisa menyebabkan daya tahan tubuh menurun," jelas Ari.

Halaman:



Close Ads X