Kompas.com - 01/05/2019, 14:31 WIB

KOMPAS.com - Selama beberapa hari terakhir dunia media sosial dihebohkan dengan postingan warganet tentang ancaman gempa besar dan tsunami di wilayah Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah, yang dipicu oleh aktivitas Sesar Batui dan Balantak.

Dalam postingan tersebut disebutkan bahwa patahan megathrust dapat memicu gempa dan tsunami di wilayah Kabupaten Banggai. Disebutkan juga bahwa dua patahan megathrust ini tepat di Batui dan Balantak bisa memicu gempa dan tsunami seperti di Palu.

Postingan ini muncul pasca terjadinya gempa tektonik yang mengguncang wilayah Kepulauan Banggai dan Morowali pada tanggal 12 April 2019 lalu berkekuatan M 6,9. Tentu saja postingan semacam ini sangat meresahkan masyarakat di wilayah Kabupaten Banggai dan sekitarnya.

"Perlu kami informasikan bahwa isu yang berkembang tersebut di atas tidak benar, untuk itu perlu kami jelaskan beberapa hal terkait Sesar Batui dan Balantak di bawah ini," ujar Daryono Kepala Bidang informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com.

Baca juga: Gempa Besar Sulteng, Bagaimana Sejarah Mencatat Tektonik dan Tsunami?

Sesar Batui dan Sesar Balantak bukanlah zona megathrust. Jika dikaitkan dengan keberadaan benua mikro Banggai-Sula di sebelah timurnya, maka front subduksi purba Benua Mikro Banggai Sula ke bawah Pulau Sulawesi tidak berada di zona Batui dan Balantak.

Zona subduksi purba Banggai-Sula terletak di bawah lengan timur Pulau Sulawesi. Sistem subduksi purba ini sudah selesai dari sekitar mio-pliosen, dan setelah itu benturan yang terjadi antara ofiolit lengan timur sulawesi dengan benua mikro Banggai-Sula.

Usia zona sesar Batui ini sudah sangat tua yaitu sekitar miosen-pliosen. Demikian juga sesar Balantak sudah sangat tua sekitar pliosen. Jadi keduanya merupakan sesar tersier.

"Dari sisi aktivitas kegempaan, meskipun kedua sesar ini usianya sudah sangat tua tetapi masih berpotensi terjadi gempa, akan tetapi potensi megnitudonya tidak sebesar sesar Palu Koro," terang Daryono.

Untuk diketahui, gempa dan tsunami di Palu pada 28 September 2018 disebabkan oleh aktivitas sesar Palu Koro.

Dalam penjelasan Kompas.com yang terbit (29/9/2018), Sutopo Purwo Nugrogho menjelaskan bahwa sesar Palu Koro merupakan patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga ke Teluk Bone. Sesar ini dikatakan sangat aktif hingga pergerakannya mencapai 35 sampai 44 milimeter per tahun.

Baca juga: Sumbernya di Daratan, Bagaimana Gempa Sulteng Bisa Picu Tsunami?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.