Riwayat Ilmu di Indonesia dalam “Belenggu Ilmuwan & Ilmu Pengetahuan”

Kompas.com - 23/04/2019, 19:06 WIB
Bedah buku Belenggu Ilmuwan dan Ilmu Pengetahuan dalam rangka hari ulang tahun Museum Nasional ke-241, Selasa (23/4/2019). Bedah buku Belenggu Ilmuwan dan Ilmu Pengetahuan dalam rangka hari ulang tahun Museum Nasional ke-241, Selasa (23/4/2019).

KOMPAS.com – Indonesia sejak dahulu kala telah dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam tinggi. Hal ini pula yang menjadi pemicu awal ketertarikan berbagai ilmuwan, khususnya naturalis dan ahli botani, untuk datang ke Hindia Belanda.

Dalam perjalanannya, para ilmuwan ini dianggap sebagai “apostel” pembawa semangat aufklarung (pencerahan) dari Eropa ke Indonesia. Namun kemudian, para apostel ini dipekerjakan oleh pemerintahan kolonial untuk membantu eksploitasi sumber daya alam, terutama untuk komoditas botani seperti teh, kina, kopi, dan karet.

Dalam perkembangannya, para apostel terbagi menjadi dua kubu, yaitu apostel naturalis yang ingin mencerdaskan masyarakat sipil lokal sebagai bentuk politik etis, serta apostel yang bekerja demi kepentingan pemerintahan kolonial.

Hal ini melahirkan istilah floracrats, gabungan antara “flora” dengan “bureaucrats.”

Baca juga: Ilmuwan Indonesia, Akankah Selamanya Menjadi Ali?

Riyawat perjalanan para apostel serta peranan birokrasi dan kepentingan negara dari era kolonial Hindia Belanda hingga masa Orde Baru ini merupakan bahasan utama dari buku Belenggu Ilmuwan dan Ilmu Pengetahuan karya Andrew Goss.

Secara umum, buku ini menceritakan kegagalan para apostel membawa misi pencerahan melalui ilmu pengetahuan yang universal dan objektif untuk menjadi dasar pemikiran masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia.

“Buku ini merupakan buku sejarah yang dapat diambil aspirasi dan inspirasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan kita”, ujar JJ Rizal, sejarawan sekaligus ketua Komunitas Bambu, dalam diskusi bedah buku di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Prof. Herawati Sudoyo, peneliti Eijkman Institute yang hadir dalam diskusi menjelaskan bahwa buku ini menceritakan sejarah pemanfaatan ilmu pengetahuan di Indonesia untuk kepentingan masyarakat, terutama dari segi ekonomi uamh dilakukan oleh peneliti amatir dan kemudian menjadi birokrat negara.

Baca juga: Penjelasan LIPI Terkait Pemusnahan Ribuan Buku dan Isu Reorganisasi

Buku ini disusun secara komprehensif dan menilik setiap periode tertentu dalam riwayat Hindia Belanda hingga Indonesia. Namun, bukan berarti buku ini tidak memiliki kritik.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid yang turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut memaparkan kritiknya, bahwa Goss tidak mempertimbangkan perbedaan kapitalisme Eropa yang bangkit dari independensi pemilik kapital dengan kapitalisme Indonesia yang justru dihadirkan lewat kepentingan negara.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X