Ilmuwan Indonesia, Akankah Selamanya Menjadi Ali?

Kompas.com - 27/12/2017, 20:02 WIB
Satu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di Singapura pada awal 1862 Wallace Memorial FundSatu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di Singapura pada awal 1862
EditorYunanto Wiji Utomo


KOMPAS.com - Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda Melayu bernama Ali. Dia sudah lama mati namun belum lama ini sosoknya bangkit kembali.

Kebangkitannya bukan bermula dari tanah yang retak, tetapi dari sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang ahli sejarah sains yang bernama John van Wyhe.

Baca: Remaja Melayu di Balik Ekspedisi Alfred Wallace di Asia Tenggara

Berdasarkan penelusuran John, Ali adalah sosok penting dalam ekspedisi Alfred Wallace di Kepulauan Melayu pada akhir abad ke-19.

Berawal dari seorang juru masak, Ali kemudian membantu Wallace dalam mencari dan mengawetkan spesimen-spesimen burung dan serangga.

Dibandingkan dengan asisten Wallace yang berasal dari Inggris, Ali dinilai lebih cekatan dan lebih produktif dalam mengumpulkan spesimen.

Ribuan spesimen yang disiapkan Ali ini merupakan sumber dari tercetusnya Teori Seleksi Alam, sebuah teori yang membantu Charles Darwin mengembangkan Teori Evolusi.

Namun kisah tentang Ali hilang seketika sejak kepulangan Wallace ke Inggris Raya. Buku harian Wallace merupakan sumber utama kisah Ali sehingga ketika keduanya berpisah, secara otomatis kisahnya berhenti.

Walaupun demikian, para ahli sejarah sains seperti John terus mencari tahu tentang sosok Ali, sebuah sosok penting yang masih tersembunyi dalam bayang-bayang Alfred Wallace.

Ratusan tahun berlalu dan saya baru menyadari bahwa ternyata ‘sosok Ali” masih hidup dalam kebanyakan tubuh ilmuwan Indonesia dan juga ilmuwan di negara berkembang lainnya.

Kisah Ali memberikan perspektif baru bagi saya untuk melihat kondisi sains dan teknologi di negara berkembang saat ini.

Kisah ini merupakan simbol dominasi sains oleh dunia Barat dan pengabaian dunia atas kontribusi ilmuwan di negara berkembang untuk sains itu sendiri.

Banyak ahli menyebutkan bahwa sains modern lahir dengan pendanaan dari kaum kapitalis di zaman kolonial.

Yuval Noah Harari, dalam bukunya Sapiens, menyebutkan bahwa pelayaran-pelayaran bangsa Eropa ke selatan dunia di abad 19 bukan hanya ditumpangi oleh pelaut,pendeta, dan pedagang, namun juga oleh para naturalis seperti Alfred Wallace dan Darwin.

Sedangkan Carl Sagan, dalam bukunya Cosmos, menyebutkan bahwa revolusi sains modern tidak bisa dipisahkan dari dukungan pemerintah Belanda pada abad 19 terhadap kebebasan berpikir (free-thinking).

Saat ini dunia sudah jauh meninggalkan kolonialisme. Sains modern yang tadinya dimiliki Barat sekarang seharusnya sudah menjadi perjalanan bersama (universal quest) umat manusia.

Melalui semangat kebebasan dan kesetaraan, banyak orang di Indonesia dan negara berkembang lainnya turut serta mempelajari sains sehingga akhirnya mereka menjadi pelaku dari perkembangan sains itu sendiri.

Namun sayangnya kebanyakan nasib mereka sama seperti Ali. Sumbangsih mereka untuk ilmu pengetahuan masih berada di balik bayang-bayang kolega mereka di Barat.

Berdasarkan penelitian di jurnal Health Affairs, ilmuwan Barat cenderung meremehkan hasil penelitian kolega mereka di negara berkembang.

Dalam eksperimen tersebut, sebanyak 347 ilmuwan kedokteran meninjau (review) empat buah abstrak penelitian yang berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Ethiopia, dan Malawi.

Satu bulan kemudian, mereka meninjau empat buah abstrak yang sama tetapi mereka tidak menyadari bahwa afiliasi negara yang tertulis di abstrak tersebut sudah ditukar oleh penguji.

Hasilnya, mereka memberikan nilai yang lebih tinggi untuk abstrak yang berubah afiliasinya dari negara miskin ke negara kaya.

Jika pada kesempatan pertama mereka membaca abstrak A dari negara Malawi dan memberinya nilai 6. Maka di kesempatan kedua,mereka memberi nilai 8 pada abstrak A yang telah berubah afiliasi menjadi institusi di Jerman.

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa tingkat penerimaan (acceptance rate) makalah ilmiah yang berasal dari negara-negara berbahasa Inggris lebih tinggi daripada makalah negara-negara yang tidak berbahasa Inggris.

Ini tentunya sebuah hal buruk bagi infrastruktur sains dunia. Para ilmuwan di negara berkembang akan sulit menyebarkan hasil penelitian mereka karena mereka sudah “tersandung” di awal.

Mungkin karena sebab inilah kebanyakan ilmuwan kita mengandalkan kolaborasi riset internasional untuk perkembangan karir mereka.

Namun kolaborasi riset ini juga tidak selamanya menguntungkan.

Halaman selanjutnya: Kendala penulis Indonesia

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X