Kompas.com - 23/04/2019, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Dunia merayakan hari bumi, kemarin (22/04/2019). Perayaan hari Bumi sendiri dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet "rumah" manusia.

Sayangnya, dari tahun ke tahun, kondisi Bumi kian memprihatinkan akibat polusi. Salah satu polusi yang menjadi masalah adalah perkara plastik.

Sebagai informasi, saat ini lebih banyak potongan mikroplastik di laut dibanding bintang di galaksi kita. Bahkan, diperkirakan, pada 2050 akan ada lebih banyak plastik dibanding ikan di laut.

Masalah plastik ini sulit dihindari karena bahan tersebut murah, mudah dibentuk, kuat dan tahan lama. Karena sifatnya ini, pada 1950-an saja, 8,3 miliar metrik ton plastik diproduksi di seluruh dunia.

Baca juga: Hari Bumi, 6 Foto Memilukan Bukti Plastik Bahayakan Planet Ini

Plastik memang tidak secara langsung menghancurkan Bumi, tapi bahan ini perlahan menempatkan rumah kita dalam bahaya. Bagaimana tidak, konsumsi plastik setiap harinya semakin banyak bahkan bisa dibilang nyaris tak terkendali.

Dengan jumlah yang sangat banyak itu, penanganan sampah plastik justru minim.

Melansir dari laporan The Independent pada September 2017, 79 persen plastik yang diproduksi selama 70 tahun terakhir berakhir di pembuangan sampah.

Hanya 9 persen sampah plastik yang akhirnya di daur ulang. Sisanya, plastik dibakar begitu saja.

Bikin Bencana

Di antara banyaknya plastik yang berkahir ke pembuangan, sebagian besar masuk ke lautan. Angka sampah plastik yang masuk ke laut setiap tahunnya mencapai 8 juta ton.

Para ilmuwan memperkirakan, pada 2050 akan lebih banyak plastik dibanding ikan di laut. Saat ini saja, diperkirakan laut dunia mengandung sekitar 51 triliun partikel mikroplastik.

Kabar buruknya, beberapa jenis plastik beracun dan dapat mengganggu hormon penting bagi kehidupan yang sehat. Dengan kata lain, plastik bisa meracuni dan menjadi polutan bagi alam.

Tak hanya beracun, sampah plastik juga sering dibuang secara sembarangan. Sering kali, sampah jenis ini menyumbat saluran air di perkotaan hingga mengotori taman atau destinasi wisata.

Jika sudah begitu, bencana sering datang sebagai akibatnya. Sumbatan saluran air tak jarang mendatangkan banjir atau destinasi wisata dan taman yang kotor membawa penyakit.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.