Hari Bumi, 6 Foto Memilukan Bukti Plastik Bahayakan Planet Ini

Kompas.com - 22/04/2019, 18:33 WIB
Sampah yang didominasi plastik memenuhi sepanjang Kali Pisang Batu, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019). Tumpukan sampah yang sudah berlangsung sekitar sebulan tersebut sepanjang sekitar 1,5 kilometer.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Sampah yang didominasi plastik memenuhi sepanjang Kali Pisang Batu, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019). Tumpukan sampah yang sudah berlangsung sekitar sebulan tersebut sepanjang sekitar 1,5 kilometer.

KOMPAS.com - 22 April selalu diperingati sebagai hari Bumi. Tahun ini, Jaringan Hari Bumi (EDN), organisasi yang memimpin perayaan Hari Bumi di seluruh dunia menetapkan tema tahun ini "Melindungi Spesies Kita".

Melansir dari VoA Indonesia, Senin (22/04/2019), tema tersebut dipilih oleh EDN untuk menyoroti fakta bahwa kepunahan massal lebih banyak disebabkan aktivitas manusia dibandingkan penyebab alami.

Salah satu aktivitas manusia yang merusak bumi dan membuat kepunahan massal adalah aktivitas berkaitan dengan plastik.

Perkara plastik yang membahayakan Bumi dan isinya bukan isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan dengan beberapa foto yang menunjukkan bahaya plastik.

Baca juga: Perangi Masalah Plastik, BSN Bikin SNI Kresek Mudah Terurai

1. Kuda Laut "Pegang" Korek Kuping

Kuda laut meraih korek kuping saat melayang di lautan. Foto ini menunjukkan bahwa sampah manusia menjadi keseharian hewan laut. Justin Hofman/Instagram Kuda laut meraih korek kuping saat melayang di lautan. Foto ini menunjukkan bahwa sampah manusia menjadi keseharian hewan laut.

Foto karya Justrin Hofman menjadi bukti bahwa sampah plastik telah bagitu besar mencemari lautan.

Kabar buruknya, foto ini diambil di Indonesia. Fotografer asal California itu menyelam di lepas pantai Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ketika menemukan seekor kuda laut yang jadi obyek fotonya.

Angin kencang membuat kuda laut itu melayang. Ia kemudian berpegangan pada sebuah rumput laut dan kemudian berpindah ke kantong plastik putih.

"Berikutnya yang diraihnya adalah korek kuping," kata Hofman, dilansir dari The Washington Post, Jumat (15/09/2017).

Pesan dari seluruh dunia berdatangan mengomentari realitas laut yang dihasilkan Hofman.

"Beberapa dari mereka merasa patah hati, beberapa di antaranya merasa frustrasi," katanya.

"Kita benar-benar mempengaruhi lautan kita dengan kelalaian dan ketidaktahuan kita," tegas Hofman.

Halaman Berikutnya
Halaman:



Close Ads X