Prabowo Subianto dan Kecenderungan Partisan Berpikir Konspiratif

Kompas.com - 23/04/2019, 07:05 WIB
Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto saat mendeklarasikan kemenangannya pada Pilpres 2019 di kediaman Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). Prabowo kembali mendekalarasikan kemenangannya versi real count internal BPN sebesar 62 persen.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto saat mendeklarasikan kemenangannya pada Pilpres 2019 di kediaman Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). Prabowo kembali mendekalarasikan kemenangannya versi real count internal BPN sebesar 62 persen.

Oleh Rizqy Amelia Zein

BEBERAPA jam setelah waktu pencoblosan berakhir pada Rabu pekan lalu, calon Presiden Prabowo Subianto buru-buru mengumumkan klaim kemenangannya.

Dasar klaim tersebut adalah hasil penghitungan timnya yang mengklaim suara dari 320 ribu tempat pemungutan suara (TPS), yang menunjukkan ia menang dengan margin yang sangat besar, yaitu 62%.

Sehari setelah pencoblosan, didampingi wakilnya Sandiaga Uno, Prabowo kembali menyuarakan klaim kemenangannya.

Dasar klaim tersebut adalah data exit poll yang diklaim melibatkan 5000 TPS yang menunjukkan dia dan wakilnya mendapat suara 55,4%. Untuk menyakinkan publik, Prabowo juga mengklaim suaranya dari hasil hitung cepat (quick count ) versinya adalah 52,2%.

Menariknya, klaim kemenangan tersebut bertentangan dengan hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei kredibel. Mereka memprediksi Jokowi-Ma'ruf Amin menang dengan suara sekitar 53-56%, sementara suara Prabowo-Sandiaga Uno diperkirakan ‘hanya’ 44-46%.

Secara metodologi, hitung cepat sangat berbeda dengan survei elektabilitas, exit poll, dan hitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Klaim kemenangan idealnya didasarkan pada hitungan manual dan berjenjang resmi versi KPU, bukan dengan hitung cepat, exit poll, apalagi sekadar survei elektabilitas.

Tapi dalam iklim politik yang dinamis, politikus kerap memakai hasil hitung cepat untuk mendeklarasikan kemenangan.

Dalam sejarah sains hitung cepat untuk pemilu di negeri ini, hitungan cepat lembaga survei yang kredibel lebih bisa dipercaya ketimbang klaim para calon yang berlaga.

Dalam tulisan ini, saya tidak menguraikan lebih jauh mengenai perbedaan metodologi ketiganya. Namun yang membuat saya khawatir, klaim prematur dari Prabowo menyiratkan sikap yang cenderung negatif terhadap sains, sekaligus mendorong pendukungnya mengadopsi mentalitas konspiratif.

Berpikir konspiratif versus bersikap skeptis

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara bersikap skeptis dengan berpikir konspiratif.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X