Kompas.com - 19/04/2019, 19:08 WIB
Gael (2) yang menjalani terapi gen baru untuk menyembuhkan SCID-X1 bersama dengan ibunya. St. Jude Children’s Research Hospital / Peter BartaGael (2) yang menjalani terapi gen baru untuk menyembuhkan SCID-X1 bersama dengan ibunya.

KOMPAS.com – Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine mengumumkan sebuah terobosan besar.

Delapan bayi dengan penyakit “bocah gelembung” tampaknya telah berhasil disembuhkan berkat terapi gen eksperimental yang melibatkan virus HIV.

Perlu untuk diketahui, penyakit “bocah gelembung” yang bernama resmi defisiensi imunitas kombinasi bersifat x-linked (SCID-X1) disebabkan oleh mutasi pada gen IL2RG yang penting bagi fungsi imun tubuh.

Memengaruhi satu di antara 50.000-100.000 bayi baru lahir, penyakit ini membuat penderitanya terlahir nyaris tanpa perlindungan imunitas sehingga mudah mengalami infeksi mematikan.

Baca juga: Hemofilia & vWD, Kelainan Penggumpalan Darah yang Serupa tapi Tak Sama

Sebetulnya, penyakit ini bisa disembuhkan dengan transplantasi sumsum tulang dari saudara yang cocok dalam protein sistem imun tertentu. Sayangnya, hanya 20 persen pasien dengan penyakit ini yang memiliki donor demikian, sementara sumsum tulang dari donor yang bukan saudara biasanya tidak efektif dan memiliki risiko besar.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu contoh kasus SCID-X1 yang paling terkenal adalah David Vetter. Anak yang lahir pada 1971 ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam gelembung plastik. Ketika akhirnya dia mendapatkan transplantasi sumsum tulang, Vetter meninggal tak lama kemudian pada usia 12 tahun.

Nah, terapi gen baru ini menjadi harapan baru untuk menyelesaikan masalah kekurangan donor yang cocok dan mencegah kasus David Vetter terulang kembali.

Para peneliti mengambil sumsum tulang dari pasien itu sendiri dan menggunakan virus HIV yang sudah dimodifikasi untuk memasukkan gen IL2RG yang benar ke dalam sel. Sel-sel ini kemudian dimasukkan kembali ke dalam rongga pada sumsum tulang yang sudah dibuat menggunakan obat kemoterapi.

Baca juga: Derita Penyakit Langka, Kulit Bocah Ini Membatu

Memang ada kekhawatiran terhadap terapi gen, yaitu kemungkinan sel-sel di sekitar gen yang baru berubah menjadi sel kanker. Namun, para peneliti telah mengantisipasinya dengan turut memasukkan gen “insulator” yang memblokir aktivasi gen di sekitarnya.

Menurut para peneliti, terapi ini tampaknya berhasil.

16 bulan setelah menjalani terapi gen, seluruh pasien ditemukan mampu memproduksi sel imun yang tepat untuk melindungi diri mereka dari virus dan bakteri yang umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pasien-pasien ini juga bertumbuh dengan normal dan tidak menunjukkan adanya efek samping serius dari terapi tersebut.

Peneliti utama studi dan dokter hematologi-onkologi anak di St Jude Department of Bone Marrow Transplantation and Cellular Therapy in Memphis, Tennessee, Dr Ewelina Mamcarz, mengatakan, pasien-pasien ini sekarang sudah balita.

“(Mereka) merespons vaksinasi dan memiliki sistem imun yang membuat seluruh sel imun yang mereka butuhkan untuk perlindungan dari infeksi saat mengeksplorasi dunia dan hidup dengan normal,” ujarnya dalam siaran pers.

Meski demikian, para peneliti juga mengakui bahwa mereka masih perlu memonitor pasien-pasien ini lebih lanjut, untuk mengetahui bila terapi memang bekerja untuk jangka panjang dan tidak menyebabkan efek samping.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X