Kompas.com - 18/04/2019, 20:06 WIB

“Studi ini menantang asumsi yang selama ini beredar, bahwa otak mamalia akan mengalami kerusakan yang permanen beberapa menit setelah darah berhenti mengalir. Ini juga dapat memunculkan kemungkinan bahwa kita dapat menyelamatkan otak seseorang bahkan setelah jantung dan paru-paru berhenti bekerja”, jelas Stuart Youngner dan Insoo Hyun, pakar neurosains yang menulis komentar pendamping di jurnal Nature.

Penemuan bahwa otak masih mampu bertahan hidup setelah “mati” selama berjam-jam membuka dilema etika yang perlu kita pertimbangkan.

Pada sebagian besar negara, seseorang dapat dinyatakan meninggal jika menunjukkan tanda hilangnya fungsi otak (brain death), atau lenyapnya fungsi sirkulasi (circulatory death).

Jika sistem BrainEx dapat berfungsi optimal, maka batasan ini dapat diatur ulang.

Teknologi ini diharapkan dapat membantu pasien yang menderita stroke atau serangan jantung dalam waktu dekat.

“Atau lebih fundamental lagi, kita dapat menyelami pertanyaan klasik mengenai apa yang membuat hewan, atau manusia 'hidup'”, tutup Youngner dan Hyun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.