Sempat Menyusut, Lapisan Gletser di Greenland Kini "Tumbuh" Lagi

Kompas.com - 04/04/2019, 18:03 WIB
Gletser Jakobshavn diambil dari pesawat riset NASA di Greenland. Gletser Jakobshavn diambil dari pesawat riset NASA di Greenland.


KOMPAS.com - Sebuah gletser besar di Greenland, yang pernah dinyatakan sebagai lapisan es paling cepat menyusut, kini tampak kembali meluas, kata sebuah studi yang diadakan oleh Badan Antariksa Amerika, NASA. Tapi itu bukan berarti kabar baik.

Laporan itu mengatakan bahwa gletser Jakobshavn di Greenland, bukan saja tidak lagi menyusut, tapi bahkan menjadi lebih tebal.

Pakar NASA Ala Khazendar mengatakan, antara tahun 2016 dan 2017 mendapati bagian depan gletser itu telah bertambah tebal 30 meter.

"Itu berarti hampir 30 meter dalam waktu satu tahun, dan antara 2017 dan 2018, hal yang sama terjadi lagi," ujar Khazender.

Baca juga: Gletser Everest Mencair, Sejumlah Mayat Muncul ke Permukaan

Ini adalah hal yang mencengangkan, karena sejak tahun 2012 gletser itu tampak menyusut sekitar 2,9 kilometer per tahun karena adanya peningkatan suhu bumi.

Namun dalam dua tahun terakhir, lapisan gletser itu kembali menjadi tebal dengan kecepatan yang sama.

Kata pejabat NASA, hal ini kemungkinan disebabkan oleh trend mendinginnya Disko Bay yang terletak di pantai barat Greenland, di mana gletser itu mencapai tepi pantai dan air laut yang lebih dingin mengakibatkan gletser itu kembali menebal.

“Ketika suhu air laut meningkat, lidah gletser mulai mencair dan lapisan esnya menyusut. Tapi ketika suhu laut kembali mendingin, lapisan es tadi menjadi tebal lagi,” jelas Martin Siegert dari Imperial College di London.

Walaupun gletser menebal, bukan berarti pemanasan global berhenti. Fenomena itu masih berlangsung hingga saat ini, dan lapisan es di Greenland secara keseluruhan terus mencair dengan kecepatan rekor.

Baca juga: Greenland Bisa Jadi Tambang Pasir Baru kalau Es Terus Mencair

Penelitian NASA itu juga menunjukkan bahwa air laut yang menyerap panas bumi telah memainkan peran yang lebih besar dalam pencairan gletser.

Dengan kata lain, kata Ala Khazendar, ini adalah kabar buruk, karena kita bisa membuktikan betapa pekanya gletser ini dan mungkin kawasan lain di Greenland terhadap perubahan suhu air laut, yang terus naik sejak tahun 1960-an.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X