Jangan Anggap Remeh, Bekerja Shift Malam Tingkatkan Risiko Keguguran

Kompas.com - 01/04/2019, 09:43 WIB
Ilustrasi bekerja malam hari DragonImagesIlustrasi bekerja malam hari

KOMPAS.com - Studi terbaru menunjukkan, perempuan hamil yang bekerja shift malam setidaknya dua kali dalam seminggu memiliki risiko keguguran lebih tinggi.

"Perempuan yang bekerja pada shift malam terpapar cahaya pada malam hari yang mengganggu ritme sirkadian mereka dan mengurangi pelepasan melatonin," jelas penulis utama Dr. Luise Molenberg Begtrup melalui email.

"Melatonin telah terbukti penting dalam mempertahankan kesuksesan kehamilan, dengan mempertahankan fungsi plasenta."

Ritme atau irama sirkadian adalah variasi biologis dalam tubuh dalam 24 jam.

Baca juga: Keguguran Berkali-kali Bisa Disebabkan oleh Sperma yang Rusak

Untuk melihat lebih dekat dampak dari bekerja pada shift malam terhadap kehamilan, Begtrup yang merupakan seorang peneliti di Departemen Kerja Kedokteran dan Lingkungan Pengobatan di Bispebjerg dan Rumah Sakit Frederiksberg di Kopenhagen, dan rekan-rekannya menganalisis hasil kehamilan pada 22.744 pekerja pelayanan publik yang kebanyakan dipekerjakan di rumah sakit Denmark.

Para peneliti mencocokkan para perempuan ini dengan catatan dari Daftar Kelahiran Medis Denmark, yang berisi informasi tentang kehamilan yang berujung pada kelahiran, dan Daftar Pasien Nasional Denmark yang berisi informasi tentang keguguran.

Menurut laporan Occupational & Environmental Medicine, di antara 10.047 perempuan dalam penelitian yang bekerja pada shift malam selama minggu ke-3 hingga minggu ke-21 kehamilan mereka, terdapat 740 kasus keguguran. Di antara 12.697 perempuan yang tak bekerja di shift malam, terdapat 1.149 keguguran.

Setelah memperhitungkan usia ibu, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, jumlah kelahiran sebelumnya, status sosial ekonomi dan keguguran sebelumnya, Begtrup dan rekan-rekannya menemukan bahwa bekerja dua malam atau lebih dalam satu minggu antara minggu ke-8 dan minggu ke-22 dapat meningkatkan 32 persen risiko keguguran pada minggu berikutnya.

Para peneliti juga menemukan bahwa perempuan yang bekerja sebanyak 26 atau lebih shift malam antara minggu ke-4 dan minggu ke-22, dua kali lipat lebih mungkin mengalami keguguran dibandingkan mereka yang tidak bekerja pada shift malam, tetapi temuan ini hanya berdasarkan pada delapan perempuan.

Sementara para peneliti telah menemukan hubungannya, itu bukanlah bukti bahwa bekerja pada shift malam menyebabkan keguguran, kata Dr. Zev Williams, Kepala Endokrinologi Reproduksi dan Infertilitas di New York Presbyterian/Columbia Universiti Irving Medical Center.

"Ini bukan uji coba secara acak. Dengan sesuatu seperti ini, ada banyak pembaur lainnya," kata Williams.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X