Kompas.com - 19/03/2019, 18:07 WIB
Ilustrasi quasar melingkupi lubang hitam supermasif. Yoshiki MatsuokaIlustrasi quasar melingkupi lubang hitam supermasif.

KOMPAS.com – Tim internasional yang terdiri dari 48 astronom di seluruh dunia menemukan 83 lubang hitam di ujung ekstrem tata surya yang terlihat. Temuan ini dipublikasikan melalui lima makalah dalam The Astrophysical Journal dan Publications of the Astronomical Observatory of Japan.

Para peneliti berhasil menemukan seluruh lubang hitam setelah menganalisis data yang diambil oleh Hyper Suprime-Cam, sebuah instrumen pada Teleskop Subaru di National Astronomical Observatory of Japan, Hawaii, dan memandingkannya dengan dengan data dari tiga teleskop lainnya di seluruh dunia.

UPDATE: Baca juga: Setelah 2,5 Abad, Gambar Lubang Hitam Pertama Terungkap. Ini Fotonya...

Hal ini bisa dilakukan karena 83 lubang hitam yang berada pinggiran tata surya ini merupakan quasar yang menembakkan jet plasma.

Perlu diketahui, quasar merupakan gas dan debu bercahaya yang berputar mengelilingi lubang hitam supermasif. Quasar juga merupakan obyek paling terang di tata surya.

Baca juga: Astronom Jepang Mengaku Temukan Lubang Hitam Seukuran Jupiter

Nah dikarenakan jaraknya yang sekitar 13 miliar tahun cahaya dari bumi, cahaya yang dilepaskan oleh lubang hitam ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai bumi.

Apa yang dilihat oleh para peneliti saat ini adalah penampakan lubang hitam 800 juta tahun setelah tata surya terbentuk.

“Sangat luar biasa bagaimana obyek yang begitu padat dan besar dapat terbentuk tak lama setelah Big Bang. Mempelajari bagaimana lubang hitam terbentuk pada masa awal tata surya, dan seberapa umum mereka, adalah tantangan untuk model kosmologis kita,” ujar Michael Strauss, profesor ilmu astrofisika di Princeton University yang terlibat dalam penelitian.

Para peneliti kini berharap agar pengumpulan data lebih lanjut dan analisisnya akan dapat menjelaskan bagaimana quasar paling awal di tata surya kita terbentuk.

Yoshiki Matsuoka, seorang peneliti dari Ehime University yang juga tergabung dalam penelitian ini, mengatakan, quasar yang kami temukan akan menjadi subjek yang menarik untuk diobservasi lebih lanjut menggunakan fasilitas yang ada saat ini dan masa depan.

“Kita juga akan mempelajari bagaimana pembentukan dan evolusi awal lubang hitam supermasif dengan membandingkan angka kepadatan dan distribusi terang dengan prediksi dari model teoritis,” katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X